BPS: Tren Penduduk Tinggal Sendirian di Indonesia Menurun Drastis pada 2024-2025, Perempuan Mendominasi

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 09:15 WIB
BPS: Tren Penduduk Tinggal Sendirian di Indonesia Menurun Drastis pada 2024-2025, Perempuan Mendominasi

Fenomena tinggal sendirian dalam satu rumah masih menjadi realitas sosial yang terjadi di Indonesia, dan data terbaru menunjukkan pola yang dinamis dalam satu setengah dekade terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) periode 2009 hingga 2025 mencatat pergerakan jumlah penduduk yang memilih atau terpaksa hidup sendiri di rumahnya. Temuan ini mengungkap fakta menarik, mulai dari tren nasional hingga kesenjangan gender yang signifikan.

Secara nasional, persentase rumah tangga dengan satu anggota pada tahun 2009 tercatat sebesar 6,58 persen. Angka ini kemudian menunjukkan kecenderungan naik secara perlahan hingga mencapai puncaknya pada tahun 2021, yakni 8,04 persen. Namun, data proyeksi terbaru justru memperlihatkan penurunan yang cukup tajam. Pada tahun 2024, persentasenya turun menjadi 3,90 persen, dan kembali merosot ke angka 3,64 persen pada tahun 2025.

Sementara itu, data Susenas juga mengungkap perbedaan yang mencolok antara laki-laki dan perempuan yang tinggal sendirian. Pada tahun 2024, persentase perempuan yang hidup sendiri mencapai 22,65 persen. Angka ini berbanding sangat jauh dengan laki-laki, yang hanya mencatatkan 1,37 persen pada periode yang sama. Dari sini terlihat bahwa fenomena tinggal sendirian di Indonesia lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki.

Di sisi lain, data yang sama juga memetakan provinsi-provinsi dengan jumlah penduduk tinggal sendirian terbanyak. Setidaknya ada empat provinsi yang menonjol dalam kategori ini, dengan Daerah Istimewa Yogyakarta menempati posisi pertama. Temuan ini memberikan gambaran bahwa pola hidup mandiri secara tempat tinggal tidak merata di seluruh wilayah, melainkan terkonsentrasi di daerah tertentu dengan karakteristik sosial dan demografis yang khas.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar