Menonton Spider-Man: Brand New Day mungkin terasa seperti menyaksikan film superhero biasa. Namun, bagi saya, film ini meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar adegan aksi atau kostum baru. Yang terus terngiang bukanlah pertarungan spektakuler, melainkan sosok Peter Parker. Seiring bertambahnya usia, cara kita menikmati film pun berubah. Dulu kita mencari hiburan, kini kita tanpa sadar mencari jawaban mencari cermin yang memantulkan kehidupan kita sendiri. Di balik topeng Spider-Man, saya justru melihat banyak wajah orang dewasa, termasuk diri saya sendiri.
Film ini bukan sekadar kisah superhero yang menyelamatkan dunia. Ia berbicara tentang bagaimana rasanya menjadi dewasa. Selama ini kita menganggap kedewasaan sebagai fase ketika seseorang memiliki pekerjaan, penghasilan, rumah, atau keluarga. Padahal, menjadi dewasa bukan tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang apa yang harus kita tanggung. Menjadi dewasa berarti belajar hidup berdampingan dengan hal-hal yang tidak pernah diajarkan saat kecil: kesepian yang datang tanpa diundang, pengorbanan yang tidak selalu dihargai, dan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar hilang. Dalam diri Peter Parker, saya menemukan tiga hal itu: kesepian, pengorbanan, dan rasa bersalah.
Kesepian yang Sunyi
Kesepian adalah pelajaran pertama yang diam-diam diajarkan kedewasaan. Dulu saya mengira kesepian berarti tidak memiliki teman. Ternyata tidak. Kesepian bisa hadir ketika kita masih dikelilingi banyak orang. Semakin bertambah usia, lingkaran pertemanan perlahan mengecil. Bukan karena pertengkaran atau kebencian, tetapi karena hidup membawa setiap orang menuju jalan yang berbeda. Ada yang sibuk mengejar karier, membangun keluarga, pindah ke kota lain, atau diam-diam berjuang menghadapi persoalannya sendiri. Obrolan larut malam berubah menjadi pesan singkat yang dibalas beberapa hari kemudian. Pertemuan yang dulu mudah kini harus disesuaikan dengan kalender yang penuh. Tidak ada yang salah. Hidup memang sedang berjalan.
Peter Parker mengalami sesuatu yang bahkan lebih menyakitkan. Orang-orang yang paling ia cintai tidak lagi mengingat siapa dirinya. Memang itu terjadi karena mantra Doctor Strange, tetapi jika mengesampingkan unsur fantasi, bukankah perasaan itu terasa nyata? Ada saat-saat ketika kita masih mengingat seseorang dengan jelas, tetapi sadar bahwa kita mungkin tidak lagi memiliki ruang yang sama dalam kehidupannya. Bukan karena hubungan gagal atau ada kebencian. Waktu saja yang mengubah segalanya. Mungkin itulah bentuk kesepian yang paling sunyi: bukan ketika kita sendirian, melainkan ketika kita menyadari bahwa kenangan tetap tinggal, sementara manusia terus melanjutkan hidupnya.
Di titik itu, saya mulai memahami bahwa Spider-Man dan Peter Parker adalah dua sosok yang berbeda. Spider-Man adalah pahlawan yang dikenal dunia. Ia menyelamatkan orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya. Ia mendapat tepuk tangan, penghormatan, dan rasa terima kasih. Namun ketika semua itu selesai, Peter Parker pulang ke apartemen kecilnya, makan sendirian, kehilangan orang-orang yang dicintainya, dan memikul beban yang tidak diketahui siapa pun. Spider-Man mendapat pengakuan, tetapi Peter Parker belajar hidup bersama kesunyian. Kontras itu dekat dengan kehidupan banyak orang dewasa. Kita semua memiliki 'Spider-Man' dan 'Peter Parker' dalam diri. Ada versi diri yang dilihat dunia profesional, kuat, tenang, dan selalu mampu menyelesaikan masalah. Ada pula versi diri yang pulang ke rumah dalam keadaan lelah, mempertanyakan keputusan hidup, menyimpan kehilangan, dan sesekali menangis tanpa ingin diketahui siapa pun. Orang mengenal pekerjaan, jabatan, dan pencapaian kita, tetapi belum tentu mengenal manusia di balik semua peran itu.
Pengorbanan yang Tak Terlihat
Selain kesepian, kedewasaan juga mengajarkan tentang pengorbanan. Ketika muda, saya pernah berpikir setiap pengorbanan akan dibalas penghargaan. Nyatanya, banyak pengorbanan yang bahkan tidak pernah diketahui orang lain. Ada orang yang menunda mimpinya demi membiayai pendidikan adiknya. Ada yang menerima pekerjaan yang tidak dicintainya demi memastikan keluarganya hidup layak. Ada yang selalu terlihat baik-baik saja di kantor, padahal setiap malam berjuang menghadapi kecemasan atau kehilangan yang tidak pernah diceritakan. Begitulah hidup. Tidak semua pengorbanan mendapat tepuk tangan. Sebagian besar hanya menjadi cerita yang kita simpan sendiri.
Peter Parker memahami itu lebih baik daripada siapa pun. Salah satu momen paling membekas adalah ketika ia memilih untuk tidak memperkenalkan dirinya kembali kepada MJ dan Ned. Ia memiliki kesempatan untuk mengembalikan semuanya. Ia bisa saja berkata, 'Aku Peter. Aku adalah orang yang pernah kalian kenal.' Namun ketika melihat mereka menjalani kehidupan yang lebih baik, ia memilih pergi. Bukan karena ia berhenti mencintai mereka, justru karena ia masih mencintai mereka. Adegan itu menyadarkan saya bahwa pengorbanan terbesar sering kali bukan tentang kehilangan sesuatu yang kita miliki, tetapi tentang memilih melepaskan sesuatu yang paling kita inginkan demi kebaikan orang lain. Menjadi dewasa sering kali berarti membuat pilihan yang tidak pernah terasa adil bagi diri sendiri.
Rasa Bersalah yang Menetap
Lalu ada satu hal yang paling manusiawi dari Peter Parker: rasa bersalah. Hampir setiap kehilangan dalam hidupnya selalu ia anggap sebagai akibat dari pilihannya sendiri. Ia hidup dengan pertanyaan yang mungkin juga pernah kita tanyakan: Bagaimana kalau waktu itu aku mengambil keputusan yang berbeda? Bagaimana kalau aku datang lebih cepat? Bagaimana kalau aku melakukan sesuatu yang lain? Saya rasa hampir setiap orang dewasa pernah hidup bersama pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Ada penyesalan karena tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang telah pergi. Ada rasa bersalah karena merasa belum memberikan yang terbaik kepada keluarga. Ada keputusan yang hingga hari ini masih kita pertanyakan. Yang menarik, Peter Parker tidak pernah benar-benar sembuh dari rasa bersalah itu. Ia hanya belajar berjalan sambil membawanya. Mungkin itulah yang juga dilakukan banyak dari kita. Kita tidak benar-benar sembuh dari semua luka. Kita hanya menjadi lebih pandai hidup berdampingan dengannya.
Di tengah semua itu, saya teringat pada kalimat yang menjadi jiwa Spider-Man selama puluhan tahun: 'With great power comes great responsibility.' Dulu saya memahami kalimat itu secara sederhana: siapa yang memiliki kekuatan harus menggunakannya untuk menolong orang lain. Setelah menonton film ini, maknanya terasa jauh lebih dalam. Power ternyata bukan hanya tentang kemampuan super. Power adalah ilmu yang kita miliki, jabatan yang kita emban, kepercayaan yang diberikan kepada kita, atau bahkan kesempatan kecil untuk membuat hidup orang lain menjadi sedikit lebih baik. Setiap kali hidup memberi kita lebih banyak kemampuan, hidup juga meminta lebih banyak tanggung jawab. Semakin besar peran yang kita jalani, semakin banyak hal yang harus kita korbankan. Mungkin inilah mengapa menjadi dewasa sering terasa melelahkan. Bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena setiap tanggung jawab selalu datang bersama harga yang harus dibayar.
Saat berjalan keluar dari bioskop, saya akhirnya memahami mengapa Spider-Man selalu terasa berbeda dibandingkan superhero lainnya. Kita mungkin mengagumi Superman karena kekuatannya, atau Batman karena keberanian dan kecerdasannya. Namun kita mencintai Spider-Man karena di balik topeng itu ada Peter Parker seorang manusia biasa yang juga merasa takut, kesepian, harus berkorban, dan hidup bersama rasa bersalah. Spider-Man menyelamatkan dunia. Tetapi Peter Parker mengajarkan kita bagaimana bertahan ketika dunia tidak selalu berpihak kepada kita.
Dan bukankah, pada titik tertentu dalam hidup, kita semua pernah menjadi Peter Parker? Pernah merasa kesepian di tengah keramaian. Pernah harus melepaskan sesuatu yang sangat kita cintai. Pernah dihantui rasa bersalah atas keputusan yang sudah berlalu. Pernah pulang dalam keadaan lelah, lalu tetap bangun keesokan harinya untuk menjalani hidup seolah semuanya baik-baik saja. Mungkin itulah kedewasaan yang sesungguhnya. Bukan tentang menjadi semakin kuat atau sukses, melainkan tentang tetap memilih menjadi manusia yang baik ketika hidup berkali-kali menguji kita dengan kesepian, pengorbanan, dan rasa bersalah.
Pada akhirnya, hidup mungkin tidak pernah meminta kita menjadi Spider-Man. Hidup hanya meminta kita menjadi Peter Parker manusia biasa yang tetap memilih melakukan hal yang benar, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mengetahui perjuangan di baliknya. Mungkin itulah bentuk kepahlawanan yang paling dekat dengan kehidupan kita.
Artikel Terkait
Boikot Film Spider-Man Terbaru Meluas, Produser Israel Jadi Sasaran
Boikot Film Spider-Man Terbaru di Lebanon karena Produser Pro-Israel
Spider-Man: Brand New Day Tayang, Tom Holland Bawa Babak Lebih Dewasa
For Revenge Ciptakan Lagu Orisinal untuk Film Spider-Man: Brand New Day