MPR RI Dorong Penguatan Identitas Budaya Tau Samawa Lewat Sarasehan Kebudayaan

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:05 WIB
MPR RI Dorong Penguatan Identitas Budaya Tau Samawa Lewat Sarasehan Kebudayaan

Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI, Johan Rosihan, menegaskan pentingnya kebudayaan sebagai fondasi penguatan karakter bangsa. Hal itu disampaikannya dalam Sarasehan Kebudayaan bertema “Budaya dan Identitas Tau Samawa” yang digelar di Sumbawa, Minggu (2/8/2026). Kegiatan ini menghadirkan budayawan Iqbal Sanggo dan akademisi Rusli Cahyadi sebagai narasumber untuk membedah bagaimana identitas masyarakat Sumbawa terbentuk dan dipertahankan di tengah arus perubahan zaman.

Menurut Johan, ruang dialog seperti sarasehan perlu terus dihadirkan agar nilai-nilai lokal dapat didokumentasikan, dikaji secara ilmiah, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. “Keberagaman budaya merupakan kekuatan bangsa Indonesia. MPR RI berkepentingan agar nilai-nilai lokal seperti yang dimiliki masyarakat Tau Samawa terus hidup dan menjadi bagian dari pembangunan karakter kebangsaan,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Dalam paparannya, Rusli Cahyadi mengupas identitas Tau Samawa, sebutan untuk penduduk asli Suku Sumbawa. Ia menegaskan bahwa identitas tersebut tidak bersifat statis, melainkan terus dibangun melalui keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial. Mengacu pada penelitian antropolog Peter R. Goethals di Desa Rarak, Sumbawa, Rusli menjelaskan bahwa ada setidaknya dua belas indikator yang menunjukkan seseorang benar-benar menjadi bagian dari komunitas.

“Mulai dari hubungan kekerabatan, kepemilikan tanah, keterlibatan dalam pertanian, aktivitas keagamaan, hingga partisipasi dalam kewajiban sosial seperti ronda, pembayaran pajak, dan kehidupan adat. Keseluruhan unsur tersebut menunjukkan bahwa identitas budaya lahir dari praktik hidup sehari-hari, bukan sekadar status administratif,” jelasnya.

Rusli juga menyoroti konsep lokal ‘Satama Djiwa dalam Karang Nyenan’, yang menggambarkan seseorang telah ‘memasukkan jiwanya’ ke dalam komunitas. Konsep ini, kata dia, menunjukkan bahwa penerimaan sebagai bagian dari masyarakat diperoleh melalui pengabdian, keterlibatan, dan pengakuan sosial. Dengan demikian, identitas budaya merupakan sesuatu yang terus dinegosiasikan dalam kehidupan bersama.

Sementara itu, Iqbal Sanggo mengingatkan agar kebudayaan Tau Samawa tidak dipandang hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Menurutnya, nilai gotong royong, penghormatan terhadap adat, religiusitas, dan solidaritas sosial adalah modal budaya yang harus diwariskan kepada generasi muda agar tetap relevan menghadapi tantangan globalisasi.

“Modernisasi bukan alasan untuk meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, masyarakat perlu menjadikan kebudayaan sebagai fondasi dalam membangun karakter sekaligus memperkuat daya saing daerah di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat,” paparnya.

Sarasehan yang diikuti 150 peserta dari tokoh masyarakat, akademisi, budayawan, mahasiswa, dan pegiat budaya ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya kajian-kajian lanjutan mengenai identitas budaya Tau Samawa sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan nasional.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags