Dari Sisa Beasiswa Rp 1 Juta, Dian Rintis Batik Kalimasada dan Berdayakan Pemuda Wonogiri

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:06 WIB
Dari Sisa Beasiswa Rp 1 Juta, Dian Rintis Batik Kalimasada dan Berdayakan Pemuda Wonogiri

Dian Nugroho (28) masih ingat betul bagaimana pandemi COVID-19 mengubah arah hidupnya. Pada 2021, ia baru saja menamatkan pendidikan di Pendidikan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS). Saat itu, banyak perusahaan melakukan PHK dan lapangan kerja semakin sempit. Namun, keterbatasan justru menjadi titik balik baginya. Alih-alih meratapi nasib, Dian memilih pulang ke kampung halamannya di Desa Joho, Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Dengan sisa uang beasiswa Bidikmisi sebesar Rp 1 juta, ia merintis usaha batik yang diberi nama Batik Kalimasada. Kini, usaha yang dirintis dari nol itu telah mempekerjakan tujuh orang. Nama Kalimasada sendiri, menurut Dian, terinspirasi dari pewayangan, yaitu Jamus Kalimasada yang diambil dari kalimat syahadat. Baginya, nama itu menjadi penanda bahwa usaha ini dijalankan dengan sungguh-sungguh dan diharapkan memberi kebermanfaatan yang luas.

Dimulai Seorang Diri

Berbekal uang sisa beasiswa, Dian memulai usahanya sendirian. Modal utamanya saat itu adalah kenekatan. Sejak awal, ia memang bercita-cita memiliki usaha batik karena menilai batik Wonogiri memiliki kekhasan tersendiri. "Selain alasan sulit mencari pekerjaan, saya melihat Wonogiri sebenarnya punya potensi batik dengan ciri khas sendiri. Itu yang saya tangkap untuk dikembangkan," katanya.

Namun, Dian sadar Wonogiri bukan daerah pembatik seperti Laweyan, Solo. Usaha ini benar-benar harus dirintis dari nol. Ia pun berpikir bagaimana caranya batik bisa dipakai anak muda tidak hanya untuk acara formal seperti kondangan, tetapi juga untuk sehari-hari. "Saya melihat pasar di Wonogiri waktu itu belum ada yang memasarkan batik seperti itu," tuturnya.

Sebagai sarjana seni, Dian mulai membatik sendiri. Usahanya memang sengaja dimulai dari rumah untuk menghemat biaya sewa tempat. Pada 2021, teman SMP-nya yang baru pulang merantau menjadi orang pertama yang diajak membatik. Dian mengajarinya dari nol hingga bisa. "Setelah saya mengajak teman, teman saya mengajak kenalannya juga, teman sekolah, teman nongkrong," katanya. Saat itu, banyak pemuda Wonogiri yang pulang kampung karena pandemi, sehingga Dian pun melatih mereka dan mengembangkan usaha bersama.

Manfaatkan Media Sosial

Dengan modal terbatas, Dian memasarkan produknya melalui media sosial. Lokasi rumahnya yang berada di perbatasan Wonogiri dengan Ponorogo, Jawa Timur, juga menjadi pertimbangan. "Kalau ke kota Wonogiri hampir satu jam," ujarnya. Namun, pemasaran melalui media sosial justru menjangkau lebih banyak pembeli tanpa terbatas jarak. "Kalau mau sewa ruko, modalnya belum ada," katanya.

Bisa Pesan Motif

Selain batiknya yang luwes dipakai di berbagai acara, keunggulan produknya adalah pelanggan bisa memesan motif sesuai keinginan. "Customer bisa request motif apa pun, bisa saya layani," katanya. Dengan latar belakang seni rupa, Dian mampu menggambar berbagai motif. "Yang penting jelas mau gambar seperti apa. Kebanyakan customer memang pesan request, baik untuk seragam atau keperluan pribadi," ujarnya.

Antarkan Dian Mendapat Beasiswa S2

Batik Kalimasada tidak hanya memberi keuntungan bisnis, tetapi juga mengantarkan Dian meraih prestasi di berbagai lomba. Ia juga rutin mengedukasi masyarakat tentang batik. "Di Wonogiri, kami berani mengedukasi lewat workshop," katanya. Berkat usahanya itu, Dian mendapatkan beasiswa jalur pelaku budaya untuk melanjutkan studi S2 di ISI Yogyakarta dan kini telah rampung menempuh pendidikan Tata Kelola Seni.

Ke depan, Dian berharap usahanya semakin luas dipasarkan. Ia akan mengoptimalkan media sosial karena pengaruhnya sangat besar. "Bisa menarik wisatawan dari luar negeri untuk belajar batik itu juga dari sosial media," katanya. "Harapan saya, usaha ini terus berkembang dan semakin berdampak. Selain menjual produk, saya juga ingin mengedukasi agar semakin banyak orang mengenal batik dan budaya kita," pungkasnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags