Drama Gol dan VAR Warnai Duel Sengit di Ternate
Malut United dan PSM Makassar tak ada yang mau mengalah, berbagi poin setelah pertarungan penuh emosi.
Pekan ke-25 Liga 1 Indonesia menyajikan tontonan yang sulit dilupakan. Di Ternate, Malut United dan PSM Makassar saling sikut dalam duel Indonesia Timur yang benar-benar menghabiskan tenaga. Hasilnya? Imbang 3-3. Tapi angka itu tak cukup menggambarkan roller coaster emosi yang terjadi di lapangan, dari gol bunuh diri, comeback, hingga keputusan VAR yang memutuskan nasib di detik-detik akhir.
PSM-lah yang keluar lebih dulu dari garis start. Babak pertama berjalan alot, penuh dengan jual-beli serangan yang belum membuahkan hasil. Hingga kemudian, di menit ke-38, situasi berubah. Sebuah momen naas bagi bek Malut United, Sayuri Y, yang tanpa sengaja menjebak kipernya sendiri. Gol bunuh diri itu membawa PSM unggul 1-0, keunggulan yang bertahan hingga peluit istirahat berbunyi.
Kebangkitan Spektakuler Sang Tuan Rumah
Namun begitu, ganti babak, ganti pula cerita. Malut United kembali ke lapangan dengan wajah baru. Agresif, penuh semangat, dan langsung menekan. Usaha mereka langsung terbayar hanya tiga menit setelah restart. Da Silva, dengan tenang, menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Stadion yang sebelumnya hening meledak.
Momentum sepenuhnya berpindah. PSM seperti kehilangan ritme, sementara Malut terus menggasak. Dan di menit ke-52, Tyronne berhasil memperdaya pertahanan PSM. Tendangan kerasnya tak bisa dihalangi kiper, 2-1 untuk Malut! Suasana makin panas ketika Da Silva kembali menggoyang jala PSM di menit ke-67, menyelesaikan umpan matang dari Ciro. 3-1. Sepertinya poin tiga sudah di kantong.
Juku Eja Menolak Kalah
Tapi PSM Makassar bukan tim sembarangan. Tertinggal dua gol justru membangkitkan naluri bertarung mereka. Perlahan, mereka mulai mengambil alih permainan. Savio Roberto menjadi pahlawan pertama kebangkitan itu di menit ke-70, memperkecil ketertinggalan menjadi 3-2. Gol itu seperti suntikan adrenalin bagi tim tamu.
Drama pun memuncak di sepuluh menit terakhir. Serangan PSM bagai gelombang yang tak henti menghantam pertahanan Malut. Tekanan itu akhirnya berbuah di menit ke-87. Medina Themopole, pemain yang baru masuk, sukses menuntaskan peluang dan membawa skor menjadi imbang 3-3! Stadion mendadak senyap, kecuali untuk segelintir suporter PSM yang histeris.
Belum selesai. Injury time menyimpan cerita lain. Malut United sempat berpesta karena Da Silva berhasil mencetak gol yang seolah jadi kemenangan. Tapi kegembiraan itu sirna seketika. Wasit memeriksa VAR, dan setelah menunggu dengan napas tertahan, gol itu dianulir. Ada pelanggaran di prosesnya. Peluit panjang akhirnya benar-benar mengakhiri pertandingan dengan angka 3-3.
Pertandingan ini punya segalanya: enam gol, dua kali comeback, dan kontroversi teknologi. Sebuah hasil yang adil, mungkin, untuk pertunjukan spektakuler yang ditampilkan kedua tim. Di sisi lain, satu poin rasanya kurang bagi keduanya yang sangat haus kemenangan di tengah persaingan ketat klasemen.
Laga ini adalah bukti bahwa Liga 1 masih mampu menyajikan tontonan berkualitas tinggi. Penuh passion, taktik, dan ketegangan sampai detik terakhir. Baik Malut United maupun PSM Makassar pulang dengan satu poin, plus cerita tentang sebuah pertandingan yang tak akan mudah mereka lupakan.
Artikel Terkait
Pemerintah Realokasi 58% Dana Desa untuk Koperasi, Proyek Infrastruktur di Sejumlah Desa Tertunda
Boiyen Resmi Gugat Cerai Suami, Akui Hanya Tiga Minggu Jalani Rumah Tangga
Mahfud MD Ungkap Lawakan Rakyat Jelang Lengser Soeharto: Petani Minta Jangan Dikenal Sebagai Penolong Presiden
Pallu Kaloa, Hidangan Khas Sulawesi Selatan dengan Kuah Kluwek Hitam yang Kaya Rempah