Mahfud MD Ungkap Lawakan Rakyat Jelang Lengser Soeharto: Petani Minta Jangan Dikenal Sebagai Penolong Presiden

- Jumat, 24 April 2026 | 17:00 WIB
Mahfud MD Ungkap Lawakan Rakyat Jelang Lengser Soeharto: Petani Minta Jangan Dikenal Sebagai Penolong Presiden

Mahfud MD, pakar hukum tata negara, suatu waktu membagikan satu cerita lucu yang sempat ngetop di masyarakat. Cerita ini muncul pas akhir-akhir masa pemerintahan Presiden Soeharto. Meski jelas-jelas fiktif, tapi entah kenapa cerita ini cukup bisa menggambarkan gimana perasaan rakyat waktu itu. Agak absurd, tapi ya begitulah.

“Jadi, waktu itu, ini jokes menjelang jatuhnya Pak Harto, jalan-jalan Pak Harto naik helikopter di Wonogiri, helikopternya jatuh, menterinya meninggal semua, tinggal Pak Harto terengah-engah, ditolong orang desa sampai selamat,” kata Mahfud dalam YouTube komika Ben Dhanio, Monday Show With Me Ben, Kamis (16/04/2026).

Nah, setelah selamat, Pak Harto mengucapkan terima kasih. Lalu dia bertanya, siapa nama penolongnya. Ternyata penolongnya itu seorang petani. Namanya Bejo. Kata Mahfud, si Bejo ini ikhlas menolong, nggak peduli siapa yang ditolongnya. Ya udah, biasa aja gitu.

Pak Harto yang ditolong, ya pasti bersyukur dong. Dia lalu menawarkan sesuatu. Si petani diminta menyebutkan permintaan. Bahkan, Pak Harto menekankan, apa pun yang diminta pasti bisa dikabulkan. Kayaknya dia pengin balas jasa banget.

Mendengar itu, petani itu malah bingung. Kok orang yang ditolongnya ngaku bisa mengabulkan apa saja? Setelah tanya-tanya, akhirnya tahu kalau yang ditolongnya itu Presiden Indonesia sendiri, Soeharto. Baru deh petani itu menyampaikan permintaan. Dan permintaannya... cukup mengejutkan.

“Memang Bapak bisa memberi apa? Apa saja. Kamu minta rumah, minta mobil, minta apa, saya kasih. Memangnya Bapak siapa kok bisa memberi sesuatu? Saya Soeharto. Saya minta satu saja, Pak, jangan bilang-bilang bahwa saya yang nolong Bapak, saya bisa dibunuh orang kalau orang tahu bahwa saya nolong Bapak, dibunuh orang kampung,” ujar Mahfud, menceritakan jawaban petani itu kepada Pak Harto.

Di sisi lain, Mahfud juga mengingatkan bahwa cerita-cerita lucu atau cerita rakyat kayak gini banyak banget beredar menjelang jatuhnya Pak Harto. Alasannya? Ya karena kejenuhan masyarakat. Orang-orang sudah nggak tahan, sudah nggak mau lagi dipimpin oleh Pak Harto sebagai Presiden RI. Jenuh, pokoknya.

Namun begitu, cerita ini juga jadi contoh menarik. Zaman dulu, pemerintah yang otoriter itu gimana sih menanggapi lawakan-lawakan? Ternyata, kata Mahfud, pemerintah tidak mudah marah. Tidak mudah mengancam. Termasuk atas kritik yang disampaikan lewat seni kayak lawak. Agak ironis, ya, kalau dipikir-pikir.

“Itu beredar di kalangan dosen-dosen karena waktu itu orang sudah begitu jengahnya dengan situasi pemerintahan yang penuh KKN saat itu, KKN, hipokrit, macam-macam. Berbagai cerita muncul tentang Istana dan itu banyak sekali cerita. Nah, yang begitu itu, masa mau dipidanakan? Kalau mau dipidanakan itu banyak,” kata Mahfud. (WS05)

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar