Seorang warganet bernama Widhiyarini menjadi sasaran hujatan setelah pasien BPJS Yurizal Tri Chaerawan, yang sebelumnya menerima perundungan di media sosial, dilaporkan meninggal dunia. Widhiyarini adalah salah satu pengguna media sosial yang diduga ikut menulis komentar bernada negatif terhadap keluhan Yurizal tentang pelayanan rumah sakit.
Unggahan yang viral memperlihatkan Yurizal membagikan keluhannya di platform Threads pada 22 Juli 2026 mengenai waktu tunggu yang lama untuk mendapatkan ruang perawatan. Alih-alih mendapat dukungan, ia justru diserang dengan komentar yang minim empati. Salah satu komentar yang memicu kemarahan berasal dari akun Widhiyarini yang menulis, "Potong aja kak nadinya nanti juga cepet dapet ruangan."
Komentar tersebut kini telah dihapus, tetapi jejaknya sudah menyebar luas dan memicu gelombang kritik terhadap Widhiyarini. Banyak warganet yang memburu informasi tentang dirinya, termasuk latar belakang pekerjaannya. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa Widhiyarini adalah seorang tenaga kesehatan di Rumah Sakit Anak Bunda (RSAB) Harapan Kita, Jakarta Barat. Fakta ini membuat publik semakin geram karena sikapnya dianggap tidak mencerminkan etika seorang nakes.
Permintaan Maaf
Menanggapi kecaman yang meluas, Widhiyarini akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui video yang diunggah di akun Threads-nya pada Selasa, 4 Agustus 2026. Dalam video tersebut, ia menyampaikan rasa duka atas wafatnya Yurizal dan meminta maaf kepada keluarga almarhum.
"Saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak keluarga dari almarhum Yurizal atas utas saya yang menambah beban emosional dan luka pada keluarga," ujarnya. Widhiyarini juga mengakui bahwa komentarnya tidak pantas, terutama karena ia seorang tenaga kesehatan. "Saya menyadari kesalahan saya dan ketidakprofesionalan saya sebagai tenaga kesehatan," lanjutnya.
Ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa dan menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran berharga. Meski demikian, permintaan maaf tersebut tidak serta-merta meredam amarah warganet yang menilai tindakannya telah melukai perasaan banyak orang.
Artikel Terkait
Etika Tenaga Kesehatan di Era Media Sosial: Saat Stetoskop dan Smartphone Berbicara
RS Pusri Palembang Pecat Dokter Tamara Usai Hina Pasien BPJS
Empati Dokter Diuji di Tengah Viral Keluhan Pasien
UGM Nonaktifkan Mahasiswi PPDS yang Hina Pasien BPJS di Media Sosial