Lumpur itu masih ada di mana-mana. Minggu lalu, suasana SD Negeri 1 Kuala Simpang sama sekali tak seperti sekolah. Lebih mirip lapangan basah yang baru dilanda badai. Genangan air menggenang di beberapa sudut, sementara lumpur tebal dan lengket menutupi lantai ruang kelas, sisa kenangan pahit dari banjir besar yang melanda akhir November lalu.
Namun begitu, ada aktivitas yang berbeda akhir pekan ini. Tampak sejumlah personel berseragam berbagai macam bergerak di area sekolah. Mereka bukan guru atau murid, melainkan gabungan dari TNI, Taruna Akmil, AAU, AAL, Akpol, PSSN, dan juga Kadet Universitas Pertahanan. Sekitar dua puluh orang, semuanya bahu-membahu mengerjakan satu misi: mengembalikan wajah sekolah itu.
Di lapangan dan halaman, suara mesin alat berat menggema. Mereka dikerahkan untuk mengeruk endapan lumpur yang sudah mengeras, memudahkan pekerjaan yang nyaris mustahil jika hanya mengandalkan tenaga manusia.
Artikel Terkait
Prabowo Curi Waktu dengan Zidane di Davos, Bahas Mimpi Besar Sepakbola Indonesia
Tito Karnavian Desak Relokasi dan Reboisasi Usai Longsor Pasirlangu
Santet Masuk KUHP: Antara Mitos, Konflik Sosial, dan Dilema Hukum Modern
Suami Sleman Jalani Mediasi Usai Tewaskan Dua Jambret yang Sasar Istrinya