Sementara itu, di dalam ruang kelas, suasana lain tercipta. Tanpa bantuan mesin, petugas bersenjatakan sekop. Satu per satu, mereka mengais dan mengangkati lumpur dari sudut-sudut kelas. Prosesnya lambat dan melelahkan, tapi terlihat tekad yang kuat.
Memang, pekerjaan masih panjang. Di beberapa ruangan, air masih menggenang dan lapisan lumpurnya terlihat sangat tebal. Butuh waktu dan kesabaran ekstra untuk membersihkannya sampai tuntas.
Tapi setidaknya, langkah pertama sudah dimulai. Upaya gotong royong ini memberi harapan bahwa tak lama lagi, tawa dan celoteh anak-anak akan kembali memenuhi ruangan-ruangan yang kini masih penuh dengan sisa-sisa bencana.
Artikel Terkait
Kelme Luncurkan Jersey Timnas Indonesia dengan Teknologi Jacquard dan Emblem Silikon 3D
IHSG Melemah 0,37%, Analis Soroti Potensi Koreksi dan Peluang Penguatan
BSI Gelar Festival Ramadan di Makassar, Tawarkan Diskon Umrah hingga DP 0% Kendaraan
IJTI Peringatkan Perjanjian Dagang RI-AS Ancam Media Nasional