Sementara itu, di dalam ruang kelas, suasana lain tercipta. Tanpa bantuan mesin, petugas bersenjatakan sekop. Satu per satu, mereka mengais dan mengangkati lumpur dari sudut-sudut kelas. Prosesnya lambat dan melelahkan, tapi terlihat tekad yang kuat.
Memang, pekerjaan masih panjang. Di beberapa ruangan, air masih menggenang dan lapisan lumpurnya terlihat sangat tebal. Butuh waktu dan kesabaran ekstra untuk membersihkannya sampai tuntas.
Tapi setidaknya, langkah pertama sudah dimulai. Upaya gotong royong ini memberi harapan bahwa tak lama lagi, tawa dan celoteh anak-anak akan kembali memenuhi ruangan-ruangan yang kini masih penuh dengan sisa-sisa bencana.
Artikel Terkait
Prabowo Curi Waktu dengan Zidane di Davos, Bahas Mimpi Besar Sepakbola Indonesia
Tito Karnavian Desak Relokasi dan Reboisasi Usai Longsor Pasirlangu
Santet Masuk KUHP: Antara Mitos, Konflik Sosial, dan Dilema Hukum Modern
Suami Sleman Jalani Mediasi Usai Tewaskan Dua Jambret yang Sasar Istrinya