MURIANETWORK.COM - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar menegaskan bahwa perbedaan dalam menentukan awal dan akhir Ramadan merupakan suatu keniscayaan yang bersifat ilmiah. Menurutnya, yang jauh lebih penting daripada keseragaman adalah menjaga kerukunan dan keutuhan umat Islam di tengah perbedaan tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers usai Sidang Isbat di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Perbedaan sebagai Keniscayaan Ijtihadi
Anwar Iskandar menjelaskan bahwa perbedaan penentuan waktu puasa adalah hal yang wajar dalam kajian keilmuan Islam. Persoalan ini, ungkapnya, bersifat ijtihadi dan teknis, bukan menyangkut prinsip akidah atau keyakinan dasar. Dalam tradisi intelektual Islam, ruang untuk interpretasi seperti ini justru telah lama diakui.
"Perbedaan itu adalah keniscayaan karena sifatnya ijtihadi dan teknis. Karena itu, kemungkinan memulai atau mengakhiri puasa berbeda bisa saja terjadi," jelasnya.
Namun, lanjut Anwar, esensi yang harus dipegang teguh adalah semangat untuk menjaga persatuan. Di atas perbedaan metode hisab dan rukyat, nilai ukhuwah Islamiyah harus tetap dijaga.
"Namun yang paling penting adalah menjaga keutuhan sebagai umat Islam dengan saling memahami dan saling menghormati," tegasnya.
Menjaga Keutuhan Umat di Atas Segalanya
Tokoh ulama itu pun berharap masyarakat dapat membiasakan diri menyikapi perbedaan dengan bijak. Selama tidak menyentuh pokok-pokok keimanan, perbedaan justru dapat dipandang sebagai kekayaan khazanah keislaman. Fokus utama, menurut Anwar, seharusnya dialihkan pada upaya meningkatkan kualitas ibadah selama bulan suci.
"Mari kita berusaha sekuat tenaga menyempurnakan ibadah selama bulan Ramadan ini agar kualitas iman dan takwa kita semakin meningkat," ajaknya.
Imbauan untuk Semua Pihak
Tak hanya kepada sesama muslim, Anwar juga menyampaikan pesan kepada masyarakat non-muslim untuk turut menciptakan atmosfer saling menghormati. Suasana yang kondusif, kata dia, akan membantu umat Islam menjalankan ibadah puasa dengan lebih khusyuk dan penuh kedamaian.
Ia mengingatkan bahwa puasa memiliki dimensi lahir dan batin yang tidak terpisahkan. Menahan lapar dan dahaga harus berjalan beriringan dengan pengendalian diri dari segala perbuatan yang dapat merusak nilai ibadah dan persaudaraan.
"Secara syariat, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Jangan sampai secara lahir puasa, tetapi secara hakikat ternodai oleh sikap yang merusak persaudaraan," pungkas Anwar.
Artikel Terkait
Ekspor Jepang Melonjak 16,8% di Januari 2026, Defisit Perdagangan Mengecil
Mulai 2027, Vaksin HPV Gratis Diperluas untuk Anak Laki-laki Usia 11 Tahun
Truk Tangki Tiner Terbakar di Tol Cipali, Lalu Lintas Macet 7 Kilometer
Pasar Kendaraan Listrik Indonesia Diproyeksikan Tumbuh Meski Tanpa Insentif Fiskal