Suasana di Bnei Brak mendadak ricuh Minggu lalu. Dua tentara perempuan Israel terpaksa berlari, dikejar-kejar oleh sekelompok lelaki dari komunitas Yahudi ultra-Ortodoks. Keributan ini akhirnya mereda setelah polisi antihuru-hara turun tangan. Akar masalahnya, menurut banyak analisis, berkutat pada aturan wajib militer yang kini hendak menjaring semua warga, termasuk kelompok yang selama puluhan tahun terbebaskan dari kewajiban itu.
Video yang beredar luas di media sosial cukup menggambarkan kepanikan saat itu. Tampak seragam tentara IDF melintas cepat di jalanan yang sudah berantakan sampah berserakan, tempat sampah terbalik. Di momen yang sama, aparat kepolisian berusaha membentuk barikade untuk melindungi mereka. Hasilnya? Lebih dari 20 orang dilaporkan ditangkap usai kericuhan itu.
Rupanya, tentara-tentara itu berada di Bnei Brak dalam rangka menjalankan tugas wajib militernya. Nah, di sinilah sumber kemarahan muncul. Kelompok ultra-Ortodoks selama ini menikmati pengecualian, tapi pemerintah Netanyahu berencana mengubah aturan main. Wajar saja kalau sebagian dari mereka geram.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu langsung bersuara keras. Dia mengecam peristiwa itu, menyebutnya sebagai hal yang “tidak dapat diterima”.
Netanyahu menegaskan, “Kami tidak akan membiarkan anarki, dan tidak akan mentolerir kerusakan apa pun terhadap anggota IDF dan pasukan keamanan yang menjalankan tugas mereka dengan dedikasi dan keteguhan hati.”
Artikel Terkait
Jenazah Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon Tiba di Tanah Air Akhir Pekan Ini
Ribuan Personel Amankan Ibadah Jumat Agung di Seluruh Sumatera Selatan
Pohon Tumbang Tewaskan Pengemudi Mobil di Bandung, 33 Titik Terdampak
Korlantas Polri: Operasi Ketupat 2026 Tekan Angka Kecelakaan 5,31% dan Fatalitas 30%