Rabu besok, umat Muslim di Arab Saudi akan memasuki bulan Ramadan. Pengumuman resmi datang dari Mahkamah Agung setempat, yang menyatakan hilal penentu awal bulan suci itu telah berhasil terlihat.
Artinya, puasa Ramadan 1447 Hijriyah di sana dimulai tanggal 18 Februari. Seperti biasa, dari terbit fajar hingga matahari terbenam, umat Islam akan menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa. Ini jadi penanda dimulainya bulan penuh refleksi dan kebersamaan itu.
Namun begitu, di Indonesia ceritanya berbeda. Pemerintah kita, melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama, memutuskan hal lain.
Sidang yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, itu dipimpin langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar. Hasilnya? Awal Ramadan justru ditetapkan jatuh sehari setelah Arab Saudi.
"Secara hisab, data hilal hari ini tidak memenuhi kriteria hilal MABIMS,"
kata Menag Nasaruddin usai sidang. Jadi, bagi umat Islam Indonesia, puasa baru akan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026. Perbedaan penetapan seperti ini sebenarnya bukan hal yang aneh, sering terjadi karena perbedaan metode dan lokasi rukyah.
Ramadan sendiri adalah bulan kesembilan dalam kalender Islam. Bulan yang dinanti-nanti ini diakhiri dengan sukacita perayaan Idul Fitri. Meski tanggal mulainya berbeda di beberapa tempat, semangat dan tujuannya tetaplah sama: mendekatkan diri, beribadah, dan memperkuat tali silaturahmi.
Artikel Terkait
Wagub DKI Rano Karno Usulkan Car Free Night untuk Imlek dan Ramadhan 2027 Sambut 500 Tahun Jakarta
Liam Millar: Dukungan Personal Jesse Marsch Kunci Bangkit dari Cedera Menuju Piala Dunia 2026
Israel Larang Imam Masjid Al-Aqsa Masuk Kompleks Suci Jelang Ramadan
Denpasar Siapkan Festival Lampion Sambut Imlek 2026 dan HUT ke-238 Kota