Di tengah keributan soal transparansi kepemilikan saham di pasar modal Indonesia, S&P Dow Jones Indices (DJI) mengambil langkah yang berbeda. Mereka memutuskan untuk tetap melanjutkan penyesuaian kuartalan atau rebalancing pada Maret 2026 mendatang. Padahal, kompetitornya seperti MSCI dan FTSE Russell justru memilih untuk menunda peninjauan dan meningkatkan pengawasan.
Menurut S&P DJI, mereka memang terus memantau perkembangan terbaru, termasuk pedoman baru dari BEI. Namun begitu, rebalance Maret nanti akan tetap dijalankan berdasarkan prosedur standar sesuai metodologi yang berlaku saat ini. Keputusan ini disampaikan lewat Business Times, Senin (16/2/2026).
Lantas, apa yang membuat S&P berbeda? Rupanya, ini berkaitan dengan isu free float jumlah saham yang benar-benar bisa diperdagangkan publik. Kekhawatiran MSCI dan FTSE Russell adalah soal kepemilikan saham yang tidak transparan, yang bisa membuat porsi free float terlihat lebih besar dari kenyataannya. Nah, S&P sepertinya punya penilaian lain.
Analis Aletheia Capital, Nirgunan Tiruchelvam, melihat langkah S&P ini sebagai sinyal positif.
“Ini menunjukkan otoritas Indonesia kemungkinan sedang membuat kemajuan dalam memenuhi tuntutan penyedia indeks,” ujarnya.
Sentimen di pasar memang lagi tidak bagus-bagus amat. Regulator kita sedang berusaha memulihkan kredibilitas, terutama setelah dapat peringatan dari MSCI soal risiko penurunan status pasar. Ditambah lagi, ada beban kekhawatiran investor terkait penurunan peringkat utang negara.
Di sisi lain, sejak gejolak di Januari lalu, janji reformasi terus digulirkan. Otoritas berkomitmen meningkatkan transparansi dan likuiditas, misalnya dengan menaikkan batas minimum free float jadi 15 persen dan memperketat standar keterbukaan informasi. Perkembangan itulah yang mungkin jadi pertimbangan S&P untuk tetap jalan sesuai rencana.
Jadi, meski dua lembaga besar lain memilih untuk ‘wait and see’, S&P Dow Jones justru melanjutkan agenda rutinnya. Keputusan ini tentu akan disambut baik oleh pelaku pasar yang sedang butuh angin segar.
Artikel Terkait
Prospek Bank Syariah Cerah di Tengah Tekanan Pasar Modal, Bisnis Emas dan Haji Jadi Motor Pertumbuhan
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Fiskal Domestik dan Ketidakpastian Moneter Global
KWT Mawar 8 di Tangerang Jaga Kualitas Sayur Hidroponik, Utamakan Mutu Dibanding Volume Panen
IHSG Terkoreksi 0,56% dalam Sepekan, Aksi Jual Asing dan Rebalancing MSCI Tekan Saham Bank Besar