Keputusan Indonesia untuk ikut serta dalam Dewan Perdamaian Gaza yang digagas Donald Trump ternyata tak diterima dengan tangan terbuka oleh semua kalangan. Ada kegelisahan, bahkan kekhawatiran yang cukup nyata di antara para diplomat senior kita. Salah satu suara yang paling vokal datang dari Dino Patti Djalal, pendiri FPCI.
Dia secara terbuka mengirimkan peringatan keras kepada Menlu Sugiono. Intinya, jangan sampai langkah ini malah menjerumuskan Indonesia ke dalam skema yang justru merugikan Palestina. Pernyataannya itu dilayangkan Jumat lalu, menyoal urgensi dan seberapa transparan sebenarnya badan baru ini.
Ada Apa di Balik Nama ‘Perdamaian’?
Kekhawatiran Dino bukan tanpa alasan. Dia mencium sesuatu yang kurang sedap. Ada potensi kuat bahwa di balik wacana muluk-muluk tentang perdamaian, terselip agenda bisnis terselubung dari aktor-aktor tertentu. Gaza, dalam skenario terburuk, bisa berubah jadi ladang komersial proyek properti megah sementara hak rakyat asli Palestina terpinggirkan.
“Apa ada jaminan bahwa proses ini tidak akan menjadi proyek ‘real estate’ Trump atau internasional di Gaza yang akan mengesampingkan hak rakyat Palestina?”
Begitu tegas Dino. Dia risau. Jangan-jangan, akibat ambisi para pemodal besar, warga Palestina malah terusir dari tanah air mereka sendiri.
Komposisi yang Menggelitik
Hal lain yang dipertanyakan adalah susunan anggotanya. Coba lihat: Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, duduk di dalam dewan ini. Lalu, di mana perwakilan resmi Palestina? Tanpa kehadiran yang setara dan seimbang, solusi dua negara yang selama ini digaungkan bakal jadi omong kosong belaka. Hanya isapan jempol.
Artikel Terkait
Demokrasi dalam Cengkeraman: Kedaulatan Rakyat Dikaburkan oleh Permainan Elite
Modus Oplos Gas Elpiji di Semarang Rugikan Negara Rp10 Miliar
Bareskrim Beberkan Kerugian Rp 2,4 Triliun dalam Kasus Dana Syariah Indonesia
Dito Ariotedjo Buka Suara soal Asal-Usul Kuota Haji Tambahan Usai Diperiksa KPK