Trump Ancam Taliban, Kabul Siap Tempur 20 Tahun Lagi

- Jumat, 23 Januari 2026 | 05:40 WIB
Trump Ancam Taliban, Kabul Siap Tempur 20 Tahun Lagi

Ancaman Donald Trump terhadap Afghanistan soal Pangkalan Bagram ramai diperbincangkan. Lewat unggahan media sosialnya, mantan Presiden AS itu menulis keras, "If Afghanistan doesn’t give Bagram Airbase back to those that built it, the United States of America, BAD THINGS ARE GOING TO HAPPEN!!!" Intinya jelas: kembalikan pangkalan itu, atau hadapi konsekuensinya.

Namun begitu, respons dari Kabul tak kalah blak-blakan. Menteri Pertahanan Taliban punya jawaban yang lugas.

"Our answer is, if you don't leave and want bases, we're ready to fight you for another 20 years," ujarnya.

Pernyataan itu bukan sekadar gertakan kosong. Mereka sudah bertahan dua dekade melawan pasukan koalisi pimpinan AS, dan akhirnya menyaksikan Amerika hengkang. Bagi mereka, ancaman perang 20 tahun lagi adalah bahasa yang dipahami.

Di sisi lain, dunia seolah hanya menjadi penonton bisu ketika kekuatan besar bertindak. Ingat saja serangan pasukan AS ke Istana Miraflores dan penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beberapa waktu lalu. Negara berdaulat, anggota pendiri PBB sekalipun, tak berdaya. Tak ada yang benar-benar berani membela. Peristiwa itu jadi pengingat pahit: dalam percaturan global, yang lemah seringkali jadi bulan-bulanan.

Kasus Maduro ini mengingatkan saya pada sebuah episode sejarah dari abad ke-15. Tepatnya tahun 1426, Sultan Al-Ashraf Barsbay dari Mesir murka. Penyebabnya, Raja Janus dari Siprus diduga melindungi bajak laut yang membantai kru kapal dagang Mesir. Sultan tak mengadukan masalah ini ke mahkamah internasional atau dewan keamanan. Langsung saja ia kirim armada besar 180 kapal perang dengan ribuan prajurit untuk menyerbu Siprus.

Hasilnya? Raja Janus beserta sekitar 3.000 tentaranya digiring ke Kairo untuk diadili. Sang raja dipermalukan dengan diikat rantai dan ditunggangkan keledai di hadapan Sultan. Setelah dipaksa bersujud, ia ditahan selama sepuluh bulan. Baru dibebaskan setelah para penguasa Eropa mengumpulkan tebusan, dengan syarat-syarat yang berat.

Pertama, Siprus harus tunduk di bawah pemerintahan otonom Sultan. Kedua, mereka wajib bayar denda 200.000 dinar emas. Dan yang ketiga, harus menyetor upeti tahunan 20.000 dinar emas ke Mesir. Uniknya, kewajiban membayar upeti itu bertahan lama, hampir seabad, jauh setelah Sultan Barsbay wafat.

Nah, kalau Maduro dituduh terlibat dengan kartel narkoba, Janus dihukum karena diduga menyuburkan pembajakan. Polanya mirip: penguasa yang punya kekuatan nyata, tak segan menegakkan hukum dengan tangannya sendiri. Dunia memang sering kali hanya menghormati kekuatan. Seperti kata pepatah, only the strong yang didengarkan.

Pernah ada kutipan sinis yang layak direnungkan di sini. "The weak crumble, are slaughtered and are erased from history while the strong, for good or for ill, survive," bunyinya.

"Yang kuat dihormati. Aliansi dibangun bersama mereka, dan perdamaian akhirnya juga diteken dengan mereka."

-Saief Alemdar-

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler