Ambisi Persija Jakarta untuk kembali ke puncak Liga Super ternyata tak main-main. Klub ibukota itu baru saja mengambil langkah tegas: melepas gelandang asing mereka, Gustavo Franca, ke Arema FC. Keputusan ini diumumkan jelang putaran kedua kompetisi berlangsung.
Jadi, Gustavo Franca dipastikan tak lagi berseragam Macan Kemayoran. Pemain asal Brasil itu akan memperkuat Singo Edan hingga akhir musim, dengan status pinjaman. Langkah ini jelas bagian dari perombakan skuad untuk menjaga daya saing di papan atas.
Manajer Persija, Marsekal Muda TNI (Purn) Ardhi Tjahjoko, sudah membenarkan kabarnya.
“Iya benar Gustavo Franca dipinjamkan ke Arema FC,” ucap Ardhi.
Pernyataannya itu sekaligus mengakhiri berbagai spekulasi yang beredar di kalangan suporter. Padahal, Franca belum lama bergabung. Ia didatangkan di awal musim, dengan harapan besar jadi motor serangan di lini tengah.
Sayangnya, ekspektasi itu tak terpenuhi. Performanya selama satu putaran atau sekitar enam bulan dinilai kurang memuaskan. Ia kesulitan beradaptasi dan persaingan di posisinya sangat ketat.
Angkanya pun berbicara. Sepanjang putaran pertama, pemain 27 tahun itu hanya tampil 13 kali dengan total 567 menit bermain. Kontribusinya cuma satu gol dan dua assist. Statistik yang jauh dari harapan untuk seorang gelandang serang asing.
Di sisi lain, keputusan ini juga tak lepas dari kondisi skuad Persija yang kebanyakan pemain asing. Sebelum Franca pergi, tim mencatat punya 12 pemain asing. Jelas, ini harus dirapikan agar sesuai regulasi.
Penumpukan itu makin terasa setelah Persija mendatangkan Alaeddine Ajaraie, striker Maroko dari klub India. Kehadirannya diharapkan bisa mengasah ketajaman serangan Macan Kemayoran di putaran kedua nanti.
Dengan kata lain, kepergian Gustavo Franca adalah sebuah "pengorbanan" untuk misi yang lebih besar. Manajemen tampak serius ingin merebut tahta juara. Mereka tak mau setengah-setengah.
Sebelum ke Indonesia, Franca dikenal sebagai playmaker dengan visi permainan yang bagus. Ia sempat berkarier di beberapa klub luar negeri. Kedatangannya ke Kemayoran dulu disambut antusias.
Tapi realita di lapangan berkata lain. Ia gagal mendapatkan ritme dan menit bermain yang konsisten. Padahal, perannya diharapkan bisa mengatur tempo permainan Persija.
Namun begitu, pindah ke Arema FC bisa jadi angin segar bagi kariernya. Di Singo Edan, ia punya peluang untuk membuktikan diri dan dapat jam terbang lebih banyak. Kualitasnya tetap bisa jadi aset.
Bagi Persija, ini semua adalah kalkulasi. Mereka memilih fokus pada komposisi tim yang dianggap paling efektif untuk bertarung. Perjalanan masih panjang. Perburuan gelar juara musim ini jelas butuh langkah-langkah berani, meski kadang terasa keras.
Artikel Terkait
I.League Kecam Keras Tendangan Liar Pemain U-20 di Elite Pro Academy
Masa Depan Curtis Jones di Liverpool Dipertanyakan Meski Performa dan Identitas Lokal Diperjuangkan
Muh Munir Ambil Formulir, Kontestasi Ketua Muaythai Sulsel Resmi Dimulai
Bonek Kritik Kebijakan Rekrutmen Pemain Asing Persebaya