“Menurut gue yang paling parah adalah ngebangun dinasti, melakukan praktek politik dinasti. Itu paling paling parah. Karena kalau di level Presiden (Jokowi) nyontohin politik dinasti, ini mau ngeberhentiin di level kabupaten gimana,”
Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah obrolan dengan TEMPO, di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2024. Saat itu, Gibran yang syarat usianya sempat jadi ganjalan akhirnya bisa lolos berkat keputusan Mahkamah Konstitusi yang menuai kontroversi. Kebetulan, paman Gibran saat itu memang menjabat sebagai Ketua MK.
Semua proses itu, bagi Pandji, adalah rangkaian akrobatik politik yang sulit diterima.
Artikel Terkait
Enam Tersangka Narkoba NTB, Termasuk Mantan Polisi, Diperiksa Bareskrim di Jakarta
Kementan Tegaskan Komitmen Jaga Peternak dan Pertahankan HET
APPSI Perkuat Peran Stabilisasi Harga Pangan Dukung Program Pemerintah
Dua Pria Bersenjata Celurit Rampok Minimarket di Palangka Raya