Survei Ungkap Murid Paling Sinis Terhadap Program Kemendikdasmen

- Selasa, 25 November 2025 | 06:12 WIB
Survei Ungkap Murid Paling Sinis Terhadap Program Kemendikdasmen
Evaluasi Program Kemendikdasmen

Jakarta - Lembaga riset IndoStrategi baru-baru ini merilis temuan survei evaluasinya terhadap sejumlah program unggulan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Pengumpulan data sendiri berlangsung sepanjang pertengahan Oktober hingga November 2025.

Survei ini melibatkan 510 responden yang tersebar di seluruh 34 provinsi. Mereka mewakili 104 lembaga pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA/SMK.

Menurut Direktur Riset IndoStrategi, Ali Noer Zaman, komposisi responden di setiap jenjang pendidikan cukup beragam.

"Di setiap jenjang pendidikan diambil 5 orang yang mewakili guru (2 orang, satu laki-laki dan satu perempuan), 2 murid (satu laki-laki dan 1 perempuan), 1 perwakilan dari orang tua. Evaluasi dilakukan dengan mengirimkan kuesioner dalam bentuk pertanyaan terbuka dan tertutup," jelas Ali di Jakarta, Senin (24/11).

Secara umum, penerimaan publik terhadap program-program Kemendikdasmen ternyata cukup tinggi. Terutama di kalangan guru dan orang tua. Namun begitu, ada beberapa catatan menarik yang patut disimak.

Misalnya, untuk program SPMB, angka awareness guru mencapai 95% dengan dukungan 88%. Orang tua tak kalah tinggi, sedangkan persentase murid justru lebih rendah: awareness 85% dan dukungan hanya 78%. Pola serupa terlihat di program lain, meski dengan variasi yang berbeda-beda.

Di sisi lain, Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat justru menjadi yang paling disukai. Angka dukungan dari guru bahkan mencapai 93,5%, sementara orang tua dan murid juga menunjukkan respons yang positif dengan angka di atas 85%.

Tapi ceritanya jadi lain saat membahas Program Deep Learning. Kesenjangannya cukup mencolok, khususnya pada kelompok murid. Dukungan mereka hanya 41,5%, jauh di bawah guru (93%) dan orang tua (84%).

Program Koding dan AI juga punya dinamika sendiri. Di sini, justru orang tua yang pemahamannya paling rendah, hanya 51,2%. Sementara guru berada di 72,5% dan murid 60,5%.

Yang paling memprihatinkan mungkin hasil untuk Tes Kemampuan Akademik. Ini program dengan penerimaan terendah. Apalagi di kalangan murid, di mana optimisme mereka cuma 38%.

"Program Tes Kemampuan Akademik mencatat penerimaan paling rendah secara keseluruhan, terutama pada murid yang hanya memiliki awareness 48,1%, optimisme 38%, dan dukungan 50%," ungkap Ali.

Soal akses informasi, guru jelas yang paling diuntungkan. Sekitar 86,8% mereka mendapat sosialisasi resmi. Orang tua dan murid? Jauh di bawah. Bahkan untuk pemberitaan formal, murid cuma 22,2%.

"Hasil survei ini menunjukkan bahwa akses informasi murid masih terbatas dan memerlukan penggunaan kanal yang lebih sesuai dengan perilaku digital mereka," lanjutnya.

Ali menegaskan, meski secara umum program pemerintah diterima dengan baik, tapi pendekatannya harus lebih terarah. Khususnya untuk murid dan daerah luar Jawa.

Berdasarkan temuan ini, IndoStrategi memberikan tujuh rekomendasi. Poin utamanya: strategi komunikasi harus lebih tersegmentasi, guru perlu diposisikan sebagai motor program, dan konten teknologi pendidikan harus disederhanakan agar lebih aplikatif.

Mereka juga menekankan pentingnya membangun mekanisme partisipasi publik. Tujuannya jelas: melibatkan murid, guru, dan orang tua secara langsung dalam evaluasi dan penyempurnaan program ke depannya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar