Amerika Serikat, menurutnya, memantau situasi dengan ketat. “Kami akan ikut terlibat. Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras di titik yang paling menyakitkan,” tegas Trump. Namun begitu, dia buru-buru melengkapi bahwa pernyataan itu bukan sinyal untuk mengerahkan pasukan darat.
Di sisi lain, situasi di dalam negeri Iran sendiri semakin memanas. Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, pada Jumat, bersikukuh bahwa Republik Islam “tidak akan mundur”. Gelombang protes belakangan ini disebut-sebut sebagai yang terbesar dalam hampir dua pekan mengguncang otoritas ulama di sana. Massa turun ke jalan di kota-kota besar, meneriakkan slogan seperti “mati bagi diktator”, bahkan membakar gedung-gedung resmi.
Menyaksikan gelombang protes itu, Trump punya kesan sendiri. Baginya, aksi-aksi tersebut terlihat “cukup luar biasa”. Bahkan, ia menyebutnya sebagai “pemandangan yang menakjubkan untuk disaksikan.”
Artikel Terkait
Kembang Api dan Teriakan untuk Pahlavi Warnai Malam Teheran yang Masih Bergejolak
Gemblengan Semi-Militer Siapkan 1.500 Petugas Haji Tangguh
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan