Namun begitu, Brian juga jujur mengakui bahwa sebagian besar riset yang didanai saat ini masih berupa purwarupa atau proyek percontohan. Itu sebabnya, langkah selanjutnya tak kalah penting. Kemendikti tak ingin semua berhenti di lab atau laporan penelitian belaka.
Mereka aktif mengajak kalangan industri untuk melihat peluang di sana. "Kita mengundang industri-industri untuk melihat ini sebagai peluang," ujar Brian. Harapannya, kolaborasi antara peneliti dan industri bisa mendongkrak skala proyek dari sekadar pilot menjadi skala industri yang lebih luas.
Di sisi lain, program pendanaan ini bukanlah hal yang benar-benar baru. Brian menambahkan, ini adalah kelanjutan dari program riset yang sudah berjalan di Ditjen Risbang, yang anggarannya bahkan jauh lebih besar mencapai lebih dari Rp 1 triliun.
"Sebenarnya ini kelanjutan dari program riset yang ada di Risbang juga,"
ungkapnya.
Perbedaannya terletak pada fokus. Jika di Risbang lebih banyak menyentuh riset dasar, program yang diumumkan Sabtu lalu lebih menekankan pada riset terapan yang dampaknya langsung terasa. "Ini adalah riset yang berdampak langsung bagi masyarakat," sambungnya. Untuk tahap hilirisasi ke industri nantinya, tetap akan ada sinergi dengan pendanaan dari Risbang dan kerja sama dengan Ditjen Saintek.
Jadi, ada semangat baru yang coba digaungkan. Bukan cuma meneliti, tapi juga memastikan hasilnya sampai ke tangan yang membutuhkan.
Artikel Terkait
Suara Kritis di Tubuh NU: Tolak Board of Peace dan Desak PBNU Kembali ke Khittah
Sepucuk Surat Perpisahan untuk Mama Reti: Bocah 10 Tahun Gugur Demi Buku
Prabowo Siap Mundur dari Board of Peace Jika Tak Bela Palestina
MUI Tegaskan Syarat: Tak Ada Ruang bagi Israel di Board of Peace Tanpa Pengakuan Kedaulatan Palestina