Wall Street kembali berakhir di zona merah pada Selasa (3/2) waktu setempat. Sentimen pasar tampak lesu, didorong oleh kekhawatiran baru yang muncul: apakah justru teknologi AI akan menjadi bumerang bagi perusahaan-perusahaan perangkat lunak itu sendiri? Pertanyaan ini menggantung menjelang rilis laporan kuartalan dua raksasa teknologi, Alphabet dan Amazon, yang dijadwalkan akhir pekan ini.
Indeks S&P 500 melemah 0,84 persen ke level 6.917,81. Sementara itu, Nasdaq yang sarat dengan saham teknologi, terpangkas lebih dalam, turun 1,43 persen ke 23.255,19. Dow Jones relatif lebih tahan, hanya merosot 0,34 persen ke 49.240,99.
Perhatian investor jelas tertuju pada sektor teknologi. Nvidia dan Microsoft, dua pemain utama di bidang AI, sama-sama tertekan hampir 3 persen. Alphabet dan Amazon juga ikut merosot, masing-masing 1,2 persen dan 1,8 persen, jelang pengumuman kinerja mereka.
Menurut sejumlah analis, ada pergeseran sikap yang nyata belakangan ini. Investor tak lagi membeli semua saham bertema AI secara membabi buta. Mereka kini lebih selektif, mencari perusahaan yang benar-benar bisa menunjukkan hasil nyata dari investasi besar-besaran mereka di teknologi ini. Bukan sekadar janji.
Di sisi lain, peluncuran alat hukum baru oleh Anthropic untuk chatbot Claude-nya ikut memicu kekhawatiran. Alat ini seolah mengingatkan pasar bahwa AI bisa memicu persaingan yang lebih sengit dan berpotensi memangkas margin keuntungan perusahaan perangkat lunak yang sudah mapan.
Akibatnya, sejumlah saham mengalami tekanan berat. Salesforce, Datadog, dan Adobe masing-masing anjlok sekitar 7 persen. Synopsys dan Atlassian bahkan terperosok sekitar 8 persen. Yang paling parah, Intuit merosot tajam 11 persen.
Namun begitu, ada juga yang mampu melawan arus. Palantir, perusahaan data AI, justru melonjak hampir 7 persen. Kinerja kuartalan mereka yang kuat, yang dirilis Senin malam, berhasil memulihkan kepercayaan investor.
Tekanan tak hanya datang dari sektor teknologi. Saham-saham kesehatan juga terpukul setelah Novo Nordisk, produsen obat Wegovy, mengeluarkan peringatan tentang potensi penurunan penjualan tahunan. Sahamnya di bursa AS anjlok hampir 15 persen. Pesaingnya, Eli Lilly, ikut turun 3,9 persen.
Di tengah pelemahan luas, ada sedikit cahaya. Walmart meroket sekitar 3 persen dan mencatat sejarah sebagai peritel fisik pertama yang valuasi pasarnya menembus angka USD 1 triliun. Pencapaian yang cukup fenomenal.
Meski indeks mayoritas turun, ada fakta menarik di baliknya. Jumlah saham yang naik di S&P 500 ternyata masih lebih banyak daripada yang turun, dengan rasio 1,2 banding 1. Volume perdagangan juga tinggi, mencapai 23,5 miliar saham, jauh di atas rata-rata 20 sesi sebelumnya.
Secara akumulasi sepanjang 2026, pergerakan indeks masih terbatas. S&P 500 hanya naik sekitar 1 persen, sementara Nasdaq hampir datar-datar saja.
Banjir Laporan Laba
Minggu ini memang padat dengan pengumuman kinerja perusahaan. Sekitar seperempat dari konstituen S&P 500 dijadwalkan melaporkan hasilnya. Analis dari LSEG memproyeksikan pertumbuhan laba kuartal keempat bisa mencapai hampir 11 persen, lebih optimis dibanding estimasi awal Januari yang hanya sekitar 9 persen.
Reaksi pasar terhadap laporan laba pun beragam. Pfizer, contohnya, justru turun 3,3 persen meski labanya melampaui ekspektasi. Sebaliknya, Merck naik 2,2 persen setelah merilis laporan keuangannya.
Yang menarik, PepsiCo melonjak 4,9 persen. Kenaikan ini dipicu pengumuman perusahaan yang akan menurunkan harga untuk merek andalannya seperti Lay's dan Doritos. Langkah yang mungkin dianggap pasar akan mendongkrak volume penjualan.
Artikel Terkait
IHSG Siang Ini Menguat 0,65 Persen ke 7.102,72, Ditopang Sektor Non-Keuangan
OJK: Arus Dana Asing Keluar Akibat Geopolitik Global, Bukan Fundamental Ekonomi Domestik
IHSG Dibuka Menguat 0,41 Persen ke 7.086, Seluruh Sektor Hijau di Awal Perdagangan
BNI Peringatkan Nasabah soal Modus Penipuan Digital yang Incar Data Sensitif Perbankan