Seorang pelajar sekolah menengah kejuruan di Samarinda, Kalimantan Timur, meninggal dunia setelah berminggu-minggu memakai sepatu yang terlalu kecil hingga menyebabkan pembengkakan pada kakinya. Mandala Rizky Syaputra, 16 tahun, mengembuskan napas terakhir pada Jumat, 24 April 2026, meninggalkan duka mendalam sekaligus menyoroti kerasnya kondisi ekonomi keluarganya.
Kesehatan Mandala memburuk secara bertahap sebelum akhirnya ia tiada. Sepatu yang terus ia pakai sejak kelas satu SMK itu sudah dimodifikasi dengan tambahan busa agar tetap muat, meskipun ukuran kakinya terus bertambah. Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama ia tak kunjung mengganti alas kaki tersebut.
Mandala adalah anak yatim yang tinggal bersama ibu dan empat saudaranya. Sang ayah telah meninggal dunia, menjadikan Ratnasari, sang ibu, sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga. Ia berjualan risoles keliling setiap pagi untuk menghidupi anak-anaknya.
“Risol isi sayur, sama dadar gulung, sama klepon pakai keranjang. Kalau pagi saya jalan habis subuh sampai tergantung habisnya, tapi jam tujuh kurang harus sudah pulang karena kan anak mau sekolah,” ujar Ratnasari di rumah duka, Selasa, 5 Mei 2026.
Selama hampir satu bulan, Mandala mengeluhkan nyeri yang semakin parah. Rasa sakit yang awalnya terasa di kaki kemudian menjalar hingga ke pinggang dan kepala. Pembengkakan mulai terlihat setelah sekitar tiga minggu, namun ia tetap menjalani aktivitas seperti biasa, termasuk magang di sebuah pusat perbelanjaan yang mengharuskannya berdiri berjam-jam setiap hari.
“Pas dua hari magang pernah bilang, pegal saja. Kan kalau berdiri lama berasa,” kata Ratnasari menirukan keluhan anaknya.
Meski dalam kondisi sakit, Mandala hanya beristirahat saat waktu istirahat tiba. Ia baru mendapatkan penanganan medis di sebuah klinik setempat sehari sebelum meninggal, saat pembengkakan di kakinya sudah tak tertahankan.
Namun, keesokan harinya, nyawa remaja itu tak tertolong. Sebelum pergi untuk selama-lamanya, Mandala sempat menyampaikan keinginan terakhir yang belum sempat terwujud: memiliki sepatu baru. Ratnasari mengaku sangat berduka atas kepergian anaknya di tengah keterbatasan yang masih harus ia tanggung seorang diri.
Sementara itu, pihak sekolah turun tangan membantu proses pemulasaraan dan pemakaman jenazah, termasuk menyediakan ambulans. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit tentang bagaimana kemiskinan dapat merenggut nyawa secara perlahan, bahkan dari hal sekecil sepatu yang tak lagi layak pakai.
Artikel Terkait
Anggota DPR Minta BGN Utamakan Masyarakat, Bukan Kampus, dalam Pembentukan Dapur Gizi
Ahmad Dhani Akui Keluarganya Muak pada Maia Estianty, Jadi Alasan Absen di Pernikahan El Rumi
Pramono Minta Guru Besar UI Firdaus Ali Wujudkan Solusi Konkret untuk Tanggul Laut Jakarta
Perundungan Bukan Sekadar Kenakalan: UNICEF Ungkap Empat Bentuk dan Dampak Serius pada Korban