Pemerintah memastikan kesiapan sumber daya manusia yang kompeten untuk memenuhi kebutuhan industri hijau, seiring dengan pertumbuhan pasar kendaraan listrik yang melesat dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini dinilai krusial untuk menjawab permintaan tenaga kerja yang tidak hanya menguasai teknologi otomotif berbasis listrik, tetapi juga digitalisasi dan keterampilan pendukung ekonomi hijau lainnya.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, menyatakan bahwa geliat pasar yang sangat cepat dalam tiga tahun terakhir berdampak langsung pada kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi spesifik. Menurutnya, transformasi menuju ekonomi hijau bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan yang harus diantisipasi sejak dini.
“Geliat pasar yang sangat cepat dalam periode tiga tahun terakhir ini tentunya berdampak langsung pada kebutuhan tenaga kerja yang memiliki kompetensi di bidang teknologi otomotif berbasis listrik, digitalisasi, serta keterampilan pendukung industri hijau,” ujar Afriansyah dalam pernyataannya, Rabu (6/5/2025).
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat lonjakan penjualan kendaraan listrik yang signifikan. Dari sekitar 10 ribu unit pada 2022, angka tersebut melonjak menjadi lebih dari 100 ribu unit pada tahun 2025. Peningkatan ini menjadi indikator utama atas pesatnya permintaan tenaga kerja hijau di Tanah Air.
Pria yang akrab disapa Ferry itu menjelaskan, Kementerian Ketenagakerjaan berkomitmen menjalankan upaya strategis pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Hal ini merupakan bagian dari perwujudan Asta Cita dan visi Indonesia Emas 2045 di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu pendekatan yang ditempuh adalah melalui kolaborasi erat dengan mitra industri, khususnya di sektor otomotif.
“Pada tahun 2023, HMMI memberikan hibah lima unit kendaraan untuk pengembangan pelatihan vokasi kejuruan otomotif di BBPVP Bandung. Ini adalah bentuk nyata kolaborasi strategis yang kami harapkan terus berlanjut diikuti perusahaan lainnya,” kata Ferry merujuk pada kerja sama dengan PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia.
Di sisi lain, ia menekankan bahwa sinergi antara pemerintah, industri, dan lembaga pelatihan menjadi kunci utama. Tanpa kolaborasi yang erat, Indonesia dinilai akan kesulitan menciptakan tenaga kerja yang produktif dan siap menghadapi tantangan masa depan di sektor pekerjaan hijau.
“Sinergi antara pemerintah, industri, dan lembaga pelatihan menjadi kunci agar Indonesia mampu menciptakan tenaga kerja yang produktif dan siap menghadapi tantangan masa depan di sektor green jobs,” tutup Ferry.
Artikel Terkait
Aset Asuransi Nasional Tembus Rp1.195 Triliun per Maret 2026, Tumbuh 4,38 Persen
Transaksi Digital Syariah BSN Tembus Rp2,84 Triliun, Bank Kucurkan Pembiayaan Properti Rp56,5 Triliun
Penolakan Warga Hambat Pembangunan Sekolah Rakyat di Temanggung, Mensos: Lahan Sudah Clear and Clean
Indonesia Diproyeksikan Jadi Pasar Penerbangan Terbesar Keempat Dunia pada 2030, Tantangan MRO Masih Membayangi