Pembicaraan Rahasia Trump dan Al-Sharaa: Nasib Kurdi Jadi Taruhan

- Selasa, 20 Januari 2026 | 03:42 WIB
Pembicaraan Rahasia Trump dan Al-Sharaa: Nasib Kurdi Jadi Taruhan

Pada hari Senin (19/1) lalu, terjadi sebuah percakapan telepon yang cukup mengejutkan. Presiden Suriah, Ahmad al-Sharaa, ternyata berbicara langsung dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Topik utama mereka? Nasib kelompok Kurdi di Suriah.

Pembicaraan itu diungkap oleh Kantor Kepresidenan Suriah. Menariknya, ini terjadi hanya sehari setelah tercapainya kesepakatan antara Angkatan Bersenjata Suriah dan para pejuang Kurdi. Sepertinya, dinamika di lapangan memang bergerak cepat.

Kantor Kepresidenan Suriah, seperti dilaporkan AFP pada Selasa (20/1), menyebutkan bahwa kedua pemimpin itu sepakat pada satu hal penting.

"Kedua belah pihak menekankan kebutuhan untuk menjamin hak-hak dan perlindungan orang Kurdi, di dalam negara Suriah, sebagai langkah nyata untuk menjamin keutuhan dan kedaulatan Suriah,"

Sebenarnya, langkah perdamaian ini sudah dirintis sebelumnya. Presiden al-Sharaa sendiri yang mengumumkan kesepakatan gencatan senjata penuh dengan Mazloum Abdi, sang Kepala Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Pengumuman itu keluar Minggu (18/1) waktu setempat, bertepatan dengan makin majunya pasukan pemerintah ke wilayah-wilayah yang dikuasai Kurdi di utara dan timur negara itu.

“Saya merekomendasikan gencatan senjata total,” ujar Sharaa. Pernyataan itu ia sampaikan usai bertemu dengan utusan Amerika Serikat, Tom Barrack, di ibu kota Damaskus.

Memang ada sedikit kendala teknis. Pertemuan langsung dengan Mazloum Abdi sempat ditunda hingga Senin karena cuaca buruk. Tapi, jangan salah. Menurut Sharaa, kesepakatan intinya sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Tujuannya jelas: menenangkan situasi yang memanas. Rincian teknisnya baru akan dibahas kemudian.

"Rinciannya akan diselesaikan pada hari Senin,"

Sharaa menjelaskan, kesepakatan ini bukan hal yang sama sekali baru. Ia berdasar pada semangat perjanjian yang sudah ditandatangani pada Maret tahun lalu. Hanya saja, kali ini ada dorongan yang lebih kuat untuk benar-benar diwujudkan.

Di sisi lain, Sharaa juga punya pesan khusus untuk suku-suku Arab yang jadi mayoritas di Provinsi Raqa dan Deir Ezzor wilayah yang saat ini dikuasai oleh kelompok Kurdi. Ia mendesak mereka untuk tetap tenang dan menjaga ketertiban.

Harapannya tentu besar. Sharaa berharap momen ini bisa jadi titik balik. Awal yang baik untuk membangun kembali Suriah yang porak-poranda, sekaligus menciptakan keamanan dan stabilitas yang sudah lama dinanti.

“Bahwa Suriah mengakhiri keadaan perpecahannya saat ini dan bergerak menuju keadaan persatuan dan kemajuan,” pungkasnya penuh harap. Sebuah cita-cita yang, setelah bertahun-tahun konflik, terdengar seperti embun di tengah gurun.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar