Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, atau Danantara, mulai mengkaji ulang perusahaan-perusahaan BUMN secara menyeluruh. Ini bukan sekadar rutinitas. Langkah ini bagian dari apa yang mereka sebut "governance reset", sebuah komitmen untuk mengarahkan pengelolaan BUMN pada nilai ekonomi yang riil dan berkelanjutan.
Menurut Danantara, peninjauan menyeluruh ini wajib dilakukan. Sebagai pengelola aset negara yang baru, mereka merasa perlu memeriksa ulang kualitas aset, kebijakan akuntansi, hingga disiplin tata kelola di seluruh portofolio mereka.
Managing Director Stakeholder Management Danantara, Rohan Hafas, menjelaskan posisi lembaganya.
"Sebagai manajemen baru dan pemegang mandat pengelolaan aset negara, Danantara berkewajiban melakukan peninjauan menyeluruh terhadap kualitas aset, kebijakan akuntansi, serta disiplin tata kelola di seluruh portofolio," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (6/3/2026).
Rohan menambahkan, "Governance reset ini adalah langkah penguatan fondasi agar neraca perusahaan mencerminkan kondisi yang aktual, prudent, dan kredibel."
Prosesnya sendiri cukup kompleks. Mereka akan mengevaluasi banyak hal, mulai dari kebijakan akuntansi, pencatatan aset, hingga sistem tata kelola dan manajemen risiko. Tujuannya satu: standar pengelolaan yang lebih solid dan mengikuti praktik terbaik. Sebenarnya, upaya serupa sudah lebih dulu dijalankan pada kelompok Perusahaan Karya. Kini, giliran sektor-sektor BUMN lainnya yang akan dikaji secara bertahap.
Lalu, apa fokus utamanya? Pertama, normalisasi dan peningkatan kualitas aset. Kemudian, penyelarasan pencatatan keuangan agar lebih akurat, wajar, dan terkini. Mereka ingin mendorong praktik pelaporan yang transparan serta prudent, yang diakui secara luas.
Namun begitu, Rohan memaparkan bahwa Danantara tidak hanya berhenti di sana. Mereka juga menekankan penguatan fundamental keuangan yang berbasis pada kualitas laba dan arus kas operasional yang kuat. Poin lainnya adalah peningkatan EBITDA berkelanjutan, disiplin dalam belanja modal, serta struktur permodalan yang sehat.
Perhatian juga diarahkan pada hal-hal teknis seperti optimalisasi return on assets (ROA), perbaikan margin operasional, dan pengelolaan likuiditas yang lebih terukur. Intinya, mereka ingin kinerja perusahaan terlihat dari hal-hal yang konkret.
"Pendekatan ini memastikan bahwa kinerja perusahaan tidak hanya tercermin dalam pertumbuhan nominal, tetapi dalam kemampuan menghasilkan arus kas yang konsisten, menjaga solvabilitas, meningkatkan return on equity (ROE), serta memperkuat kapasitas pembagian dividen secara berkelanjutan bagi negara sebagai pemegang saham," tegas Rohan.
Dia juga menegaskan satu hal penting. Ukuran keberhasilan ke depan bukanlah sekadar angka besar di neraca. Yang lebih utama adalah kualitas kinerja itu sendiri.
"Fokus kami adalah membangun fundamental yang menghasilkan uang riil dan dividen berkelanjutan bagi negara," ucap dia.
Rohan melanjutkan, "Pertumbuhan yang sehat harus berbasis pada produktivitas dan kinerja operasional, sehingga kontribusinya terhadap penerimaan negara benar-benar terukur dan berkelanjutan."
Dengan fondasi keuangan yang solid dan disiplin manajemen yang kuat, perusahaan diharapkan bisa lebih fokus pada efisiensi dan penciptaan nilai riil bagi pemegang saham, yaitu negara. Proses ini tentu tidak dilakukan secara gegabah. Rohan mengatakan semuanya berjalan sistematis dan bertahap, dengan tetap menjaga stabilitas operasional bisnis.
Pada akhirnya, ini semua dilihat sebagai bagian dari transformasi jangka panjang.
"Hal ini sebagai bagian dari transformasi institusional jangka panjang untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional," pungkas Rohan.
Artikel Terkait
Indonesia Tolak Tawaran Pinjaman IMF-Bank Dunia USD 30 Miliar, Andalkan Cadangan Kas Sendiri
Telkom Seleksi 27 Kandidat untuk Program Calon Pimpinan Masa Depan
TASPEN Percepat Transformasi Digital dan Kuatkan Ketahanan Bisnis di Usia ke-63
Roy Suryo Tegaskan Tak Akan Ajukan Restorative Justice dalam Kasus Ijazah Jokowi