Riset Ungkap Mayoritas Aplikasi Bencana Tak Aktif, Pakar Desak Sistem Terpadu

- Kamis, 05 Maret 2026 | 12:15 WIB
Riset Ungkap Mayoritas Aplikasi Bencana Tak Aktif, Pakar Desak Sistem Terpadu

Konflik bersenjata di Iran, sekali lagi, mengingatkan kita pada satu hal: krisis tak pernah mengirimkan surat pemberitahuan. Dalam sekejap, infrastruktur bisa ambruk. Informasi berubah kabur hanya dalam hitungan menit. Dan kepanikan? Itu bisa meluas dalam sepersekian detik.

Memang, Indonesia bukan negara perang. Tapi jangan salah, negeri ini punya risiko bencana yang sangat tinggi. Kita hidup di atas Cincin Api Pasifik, dikelilingi gunung berapi dan jalur gempa aktif. Belum lagi ancaman banjir dan cuaca ekstrem yang makin menjadi-jadi akibat perubahan iklim. Intinya, kita tinggal di wilayah yang rawan.

Data global punya cerita yang serupa. Selama lima puluh tahun terakhir, bencana alam telah merenggut sekitar 4,7 juta jiwa. Kerugian ekonominya fantastis: mencapai 5 triliun dolar AS. Yang mengkhawatirkan, frekuensinya juga naik signifikan. Tahun 2021 saja, tercatat 436 bencana angka yang jauh lebih tinggi dibanding rata-rata tiga dekade sebelumnya.

Asia disebut-sebut sebagai kawasan paling rawan di dunia. Dan dalam laporan risiko global, Indonesia masuk dalam kategori negara dengan skor tinggi. Jadi, ini bukan lagi soal kemungkinan. Ini sudah jadi kepastian.

Teknologi Sudah Ada, Tapi Apa Benar-Benar Dipakai?

Di tengah risiko yang makin besar, teknologi mobile kerap dianggap sebagai solusi strategis. Sebuah penelitian sistematis terbaru mengidentifikasi 77 aplikasi di 14 negara yang dirancang khusus untuk manajemen bencana. Mulai dari pencegahan, kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan.

Secara teori, temuannya cukup menggembirakan. Sekitar 65% aplikasi menyediakan fitur edukasi kebencanaan. Lalu, hampir 39%-nya punya sistem peringatan dini.

Nah, sistem peringatan dini ini penting banget. Mekanismenya memberi sinyal sebelum bencana datang, sehingga masyarakat punya waktu untuk menyelamatkan diri. Secara global, sistem yang efektif bahkan bisa mengurangi dampak bencana hingga 30%, asalkan informasinya sampai tepat waktu.

Desainnya sih bagus. Tapi realitanya ironis. Faktanya, 34% dari aplikasi-aplikasi itu punya kurang dari 1.000 unduhan. Cuma 11% yang berhasil menembus 1 juta unduhan. Yang lebih memprihatinkan, lebih dari separuhnya tepatnya 55,8% kini sudah tidak aktif lagi. Ini bukan sekadar masalah teknis, ini alarm untuk kebijakan kita.

Artinya, ada jurang lebar antara niat teknologi dan kenyataan di lapangan. Dalam literatur, ini disebut adoption & engagement gap: kesenjangan antara mengunduh aplikasi dan benar-benar memakainya saat kritis.

Menginstall bukan berarti siap. Mengunduh bukan otomatis percaya. Punya aplikasi, belum tentu punya sistem yang hidup.

Bukan Cuma Soal Prediksi, Tapi Koordinasi

Riset lain di jurnal Urban Science (2025) yang mengkaji 77 aplikasi persiapan banjir mempertegas hal ini. Aplikasi yang efektif umumnya punya fitur inti seperti peringatan real-time, direktori kontak darurat, checklist, peta interaktif, dan mekanisme pelaporan warga.

Tapi penelitian itu menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.

Kesuksesan sebuah aplikasi bencana tidak cuma terletak pada fitur-fitur canggihnya. Yang lebih penting adalah bagaimana aplikasi itu bisa diubah menjadi perilaku sosial.

Teknologi tidak otomatis menyelamatkan nyawa. Yang menyelamatkan nyawa adalah ketika teknologi itu jadi kebiasaan, dipercaya, dan dipakai saat krisis benar-benar terjadi.

Studi itu menyoroti tiga strategi agar aplikasi benar-benar "hidup":

1. Melibatkan komunitas dengan antarmuka yang ramah dan interaktif. Maksudnya, aplikasi harus dirancang agar pengguna merasa jadi bagian dari sistem, bukan cuma penerima notifikasi yang pasif.

2. Mengintegrasikan kemampuan smartphone, seperti sensor gerak, GPS, sampai barometer. Dengan begitu, ponsel tidak cuma menerima info, tapi juga bisa mengumpulkan data situasi langsung dari lapangan.

Jadi intinya, bencana bukan cuma urusan memprediksi kapan datangnya. Lebih dari itu, ini soal koordinasi. Butuh komunikasi yang langsung, jelas, dan bisa dipercaya saat kondisi berubah setiap menit.

Masalah yang Lebih Mendasar: Kepercayaan dan Keberlanjutan

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar