Persediaan Minyak Global Anjlok 200 Juta Barel Akibat Konflik Timur Tengah, Level Terendah dalam Delapan Tahun

- Kamis, 07 Mei 2026 | 11:10 WIB
Persediaan Minyak Global Anjlok 200 Juta Barel Akibat Konflik Timur Tengah, Level Terendah dalam Delapan Tahun

Persediaan minyak global mengalami penurunan drastis hingga 200 juta barel pada April 2026, dipicu oleh konflik bersenjata yang berkecamuk di Timur Tengah. Perkiraan dari S&P Global Energy mencatat bahwa penurunan persediaan minyak mentah dunia mencapai sekitar 6,6 juta barel per hari sepanjang bulan lalu. Angka ini menjadi indikasi paling nyata dari dampak perang terhadap stabilitas pasokan energi global.

Penyebab utama dari penurunan ini adalah lumpuhnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur maritim yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Selat tersebut telah tidak berfungsi sejak pecahnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu. Dalam kondisi normal, seperlima dari total pasokan minyak dunia melewati jalur strategis ini setiap harinya.

Para ahli memperkirakan bahwa pasar kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak akibat konflik yang melibatkan Iran. Sementara itu, analis dari Goldman Sachs menyebutkan bahwa persediaan minyak global kini berada pada level terendah dalam delapan tahun terakhir. Dunia hanya memiliki sekitar 45 hari persediaan produk olahan yang tersisa, termasuk bensin dan solar.

Para pedagang minyak memperingatkan bahwa harga dapat melonjak tajam jika persediaan terus menyusut hingga berada di bawah level kritis dalam beberapa pekan mendatang. Di Eropa Utara, persediaan bahan bakar jet telah mencapai titik terendah dalam enam tahun. Di sisi lain, cadangan bensin di Amerika Serikat juga menurun menjelang peningkatan konsumsi pada musim panas.

Statistik persediaan yang dirilis mencakup cadangan pemerintah dan perusahaan di berbagai negara, minyak mentah yang disimpan di kapal tanker di laut, serta cadangan minyak strategis yang telah dilepaskan oleh Amerika Serikat untuk mengatasi krisis energi. Kombinasi faktor-faktor ini memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan terhadap pasokan energi global belum akan mereda dalam waktu dekat.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar