ADB Desak Jepang dan Negara Asia Alihkan Subsidi BBM Hanya untuk Kelompok Rentan

- Kamis, 07 Mei 2026 | 11:00 WIB
ADB Desak Jepang dan Negara Asia Alihkan Subsidi BBM Hanya untuk Kelompok Rentan

Bank Pembangunan Asia (ADB) mendesak Jepang dan sejumlah negara di kawasan Asia untuk mengalihkan kebijakan subsidi bahan bakar agar hanya menyasar kelompok yang paling membutuhkan. Imbauan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan fiskal akibat konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia.

Dalam pernyataannya di sela-sela pertemuan tahunan ADB di Uzbekistan, Kepala Ekonom ADB Albert Park menegaskan bahwa subsidi yang bersifat menyeluruh dinilai kurang efektif dan justru membebani anggaran negara. “Saran kami kepada semua negara adalah, jika memungkinkan, untuk menargetkan subsidi kepada kelompok-kelompok rentan daripada menerapkannya secara menyeluruh,” ujar Park. Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu menyesuaikan pendekatan fiskal mereka guna mengamankan dana bagi program-program prioritas.

Seruan ini menjadi relevan ketika Jepang tengah bergulat dengan tekanan fiskal yang semakin berat. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang sempat menembus level di atas 2,5 persen, angka tertinggi dalam hampir tiga dekade terakhir. Pergerakan pasar tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi keuangan negara, terutama di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang dihadapkan pada rencana peningkatan belanja negara.

Saat ini, pemerintah Jepang telah membatasi harga bensin di kisaran 170 yen per liter melalui skema subsidi. Langkah ini diambil setelah harga bahan bakar sempat melonjak hingga sekitar 190 yen per liter menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Selain itu, Jepang juga tengah mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali subsidi listrik dan gas selama periode Juli hingga September guna meredam dampak kenaikan biaya energi terhadap rumah tangga.

Di sisi lain, ADB mengingatkan bahwa kebijakan subsidi yang tidak tepat sasaran berpotensi menguras anggaran negara tanpa memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Oleh karena itu, negara-negara Asia didorong untuk merancang ulang skema perlindungan sosial mereka agar lebih efisien dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian harga energi global.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar