Pasar saham kita sepertinya masih punya energi untuk lanjut menguat di awal pekan ini. Setelah Kamis lalu IHSG ditutup naik 0,47 persen ke posisi 9.075,41 sekali lagi mencatatkan rekor tertinggi baru suasana pasar masih terasa hangat. Nah, untuk perdagangan Senin (19/1) ini, analis memprediksi tren penguatan masih berpeluang berlanjut.
Tapi, jangan terlalu euforia dulu. Meski sinyal secara umum masih positif, tekanan jual mulai terlihat. MNC Sekuritas, misalnya, mengingatkan potensi koreksi jangka pendek bisa saja terjadi. Mereka mencatat level support ada di kisaran 8.956 dan 8.908, sementara resistance di area 9.077 dan 9.102.
Dari kacamata teknikal, target penguatan IHSG sebenarnya sudah tercapai. Namun, pergerakan indeks dinilai masih berada dalam fase gelombang lanjutan yang menguat. Artinya, meski ada koreksi, momentum naik belum sepenuhnya habis.
“IHSG menguat 0,47 persen ke 9.075 namun disertai oleh munculnya tekanan jual, target 9.100 pun sudah tercapai,” tulis analis MNC Sekuritas dalam laporannya.
Mereka menambahkan, “Posisi IHSG saat ini diperkirakan masih berada pada bagian dari wave (v) dari wave [iii], cermati area koreksi yang dapat terjadi di rentang 8.970-9.039 dan area penguatan yang berada di 9.123-9.151.”
Untuk saham-saham yang patut diawasi hari ini, MNC Sekuritas menyoroti CTRA, ITMG, RAJA, dan KLBF.
Di sisi lain, pandangan serupa datang dari Phintraco Sekuritas. Mereka menyebut IHSG berpeluang mencetak level tertinggi baru lagi, didorong penguatan saham-saham sektor cyclical. Namun begitu, sektor industrial justru tertekan, ikut melemah seiring pelemahan nilai tukar Rupiah.
“IHSG berpeluang menguji level 9.100-9.200 pada pekan ini,” proyeksi Phintraco.
Mereka juga mengingatkan satu agenda penting pekan ini: Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20–21 Januari. Pertemuan ini pasti akan jadi perhatian utama para investor.
“Diperkirakan BI masih akan mempertahankan BI Rate tetap pada level 4,75 persen karena Rupiah yang masih lemah. Selain itu akan dirilis data pertumbuhan kredit bulan Desember 2025 yang diperkirakan melambat menjadi 7,6 persen yoy dari 7,74 persen yoy,” jelas Phintraco.
Adapun rekomendasi saham dari Phintraco untuk dicermati antara lain BFIN, ISAT, CDIA, MAPI, TLKM, dan SIDO.
Ingat, setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab Anda sepenuhnya. Informasi ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu.
Artikel Terkait
Accola Sport Centre Serpong Dibangun di Lahan 1,4 Hektare, Targetkan Operasional September 2026
Laporan JP Morgan: Indonesia Peringkat Kedua Dunia untuk Ketahanan Energi
Garuda Indonesia Pangkas Kerugian Hampir 40% di Kuartal I 2026
BEI Soroti Rencana Dividen Rp564 Miliar MDS Retailing, Ekuitas Dikhawatirkan Negatif