Harga emas dunia kembali terpuruk pada Kamis (5/3/2026). Kenaikan yang terjadi sebelumnya seolah lenyap begitu saja, tersapu oleh dua faktor utama: imbal hasil obligasi pemerintah AS yang merangkak naik dan dolar yang menguat. Padahal, di sisi lain, suasana pasar masih tegang oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu inflasi.
Pada perdagangan spot, emas tercatat anjlok 1,16 persen ke level USD5.081,38 per troy ons. Padahal, sebelumnya sempat menyentuh USD5.194,59. Pergeseran ini cukup signifikan.
Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, memberikan analisisnya. "Kenaikan harga minyak dan potensi inflasi menjadi perhatian pasar," ujarnya.
Namun begitu, ia menambahkan, "imbal hasil Treasury yang lebih tinggi biasanya tidak baik bagi emas." Pernyataannya dikutip langsung dari Reuters.
Di lapangan, situasinya makin panas. Serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran sudah memasuki hari keenam. Laporan dari warga menyebutkan bombardir yang semakin intensif. Teheran sendiri tak tinggal diam, mereka berjanji akan membalas dendam setelah serangan AS ke sebuah kapal di luar zona konflik utama. Semua ini bikin pasar was-was.
Eskalasi konflik itu jelas menjaga kekhawatiran soal pasokan energi tetap membara. Harga minyak pun terpantik, yang otomatis memicu kekhawatiran inflasi akan melonjak. Imbasnya, prospek penurunan suku bunga oleh bank sentral jadi meredup.
Nah, di sinilah paradoks emas muncul. Logam kuning ini memang sering dianggap sebagai lindung nilai inflasi jangka panjang. Tapi, performanya justru cenderung lebih cemerlang ketika suku bunga turun, bukan naik.
Artikel Terkait
Harga Minyak Meroket Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah
Wall Street Anjlok Diterpa Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah
Saham Elnusa (ELSA) Cetak Rekor Tertinggi Sejak 2008, Tembus Rp1.050
Analis Prediksi IHSG Alami Tekanan Jual Jelang Akhir Pekan