Harga Minyak Melonjak, Konflik Timur Tengah Makin Panas
Reli harga minyak berlanjut. Pada Kamis lalu, harga komoditas energi itu kembali meroket, didorong oleh eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini jelas mengacaukan pasokan dan logistik energi global. Tak sedikit produsen besar di Timur Tengah yang terpaksa memangkas produksi mereka.
Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik hampir 5 persen ke level USD85,41 per barel. Ini jadi kenaikan kelima hari berturut-turut. Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) benar-benar meledak dengan lonjakan 8,51 persen kenaikan harian terbesar dalam enam tahun terakhir menjadi USD81,01 per barel. Level tertinggi sejak pertengahan 2024.
“Mengingat tidak ada pergerakan di Selat Hormuz, harga kemungkinan terus merangkak naik. Dengan sejumlah negara harus menutup produksi, pemulihan juga akan tertunda karena produksi tidak bisa langsung kembali penuh. Ini akan menjadi masalah untuk beberapa waktu,”
Begitu analis Mitra Again Capital, John Kilduff, memberi peringatan pada Reuters.
Di lapangan, laporan-laporan serangan terus berdatangan. Sebuah kapal tanker berbendera Bahama, Sonangol Namibe, dilaporkan mengalami kerusakan lambung akibat ledakan di dekat pelabuhan Irak. Sementara itu, serangan rudal dilaporkan menghantam wilayah timur Teheran. Di Dubai, sirene peringatan meraung-raung. Perang jelas sedang melebar.
Pernyataan politik juga ikut memanaskan suasana. Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan Axios, menyatakan dia perlu campur tangan dalam pemilihan pemimpin Iran berikutnya.
“Putra Khamenei tidak dapat saya terima. Kami ingin seseorang yang bisa membawa harmoni dan perdamaian bagi Iran,”
katanya.
“Saya harus terlibat dalam penunjukan itu, seperti yang terjadi dengan Delcy di Venezuela,”
tambah Trump.
Analis dari Ritterbusch and Associates melihat, selama konflik belum ada tanda-tanda berakhir, tekanan naik pada harga minyak mentah akan tetap kuat. Mereka bahkan memperkirakan, jika pertikaian masih berlanjut pekan depan, WTI berpeluang merangsek ke kisaran USD95 per barel.
Kekhawatiran terbesar tentu saja terpusat di Selat Hormuz. Sekitar seperlima minyak dunia melewati jalur sempit itu. Menurut data pelacakan kapal, sekitar 300 kapal tanker masih terjebak di dalam selat setelah lalu lintas nyaris terhenti total sejak perang pecah.
“Harga minyak akan sangat sensitif terhadap penutupan selat tersebut. Pada akhirnya produksi di wilayah pengekspor akan melambat, dan jika kondisi ini berlanjut hingga pekan depan, pemulihan produksi serta pengiriman setelah selat dibuka kembali juga akan membutuhkan waktu,”
jelas Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Perdagangan di BOK Financial.
Dampaknya sudah mulai terlihat. Irak, produsen terbesar kedua di OPEC, terpaksa memotong produksi hampir 1,5 juta barel per hari karena masalah penyimpanan dan ekspor. Qatar, raksasa gas, sudah menyatakan "force majeure" untuk ekspor LNG-nya. Kata sejumlah sumber, butuh waktu setidaknya satu bulan untuk menormalkan kembali volume produksi.
Tekanan merambat ke pasar produk olahan. Kontrak berjangka diesel AS melonjak 10 persen. Beberapa kilang di Timur Tengah, China, dan India mulai menutup unit pengolahan mereka. Pasar jelas ketakutan akan prospek pasokan bahan bakar yang menipis.
“Serangan tersebut, bersama langkah China mengurangi ekspor bahan bakar, turut mendorong harga minyak lebih tinggi,”
kata Giovanni Staunovo, analis UBS.
Ia menambahkan pasar produk olahan juga mulai menunjukkan tekanan akibat berkurangnya ekspor dari Timur Tengah.
Konflik sendiri memasuki hari keenam dengan intensitas yang mencemaskan. Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke Israel, memaksa warga berlindung. Sehari sebelumnya, kapal selam AS dikabarkan menenggelamkan kapal perang Iran di lepas Sri Lanka, menewaskan puluhan orang. Rudal balistik Iran yang ditembakkan ke arah Turki juga dihancurkan oleh sistem pertahanan udara NATO.
Semua mata kini tertuju ke Selat Hormuz. Jika jalur ini benar-benar macet total, gejolak di pasar minyak mungkin baru saja dimulai.
Artikel Terkait
MMIX Bidik Pendapatan Rp382 Miliar, Pacu Pertumbuhan 90% dengan Andalkan Popok Bayi
BEI Perketat Kriteria Indeks Unggulan, Saham dengan Kepemilikan Terpusat Bakal Tersingkir
IHSG Dibuka Anjlok 0,41%, Pergerakan Sektor Beragam
ESSA Hentikan Sementara Operasi Pabrik Amonia Banggai untuk Pemeliharaan 5 Minggu