Indonesia diproyeksikan menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada tahun 2030, didorong oleh peningkatan jumlah penumpang yang konsisten setiap tahunnya. Proyeksi ini disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dengan merujuk pada data International Air Transport Association (IATA). Menurutnya, pertumbuhan pasar tersebut tidak terlepas dari tren kenaikan jumlah penumpang, baik domestik maupun internasional, yang terus menunjukkan grafik positif.
Pada tahun 2025, jumlah penumpang pesawat domestik tercatat bergerak di kisaran 4,25 hingga 5,46 juta orang per bulan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan penumpang internasional yang berada di rentang 1,43 hingga 1,92 juta orang per bulan. “Berdasarkan data IATA, Indonesia diproyeksikan menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada 2030. Jadi tidak lama lagi kita akan menjadi pasar industri penerbangan terbesar keempat di dunia,” ujar Agus saat ditemui di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Rabu (6/5/2026).
Di balik optimisme tersebut, industri penerbangan nasional masih dihadapkan pada sejumlah tantangan serius, terutama dari sisi perawatan, perbaikan, dan operasional pesawat atau yang dikenal dengan Maintenance, Repair, and Operation (MRO). Kondisi ini turut memengaruhi jumlah pesawat yang beroperasi. Pada 2023, tercatat sebanyak 593 unit pesawat beroperasi. Angka tersebut menurun menjadi 582 unit pada 2024, dan kembali turun menjadi 578 unit pada 2025.
Menperin menjelaskan bahwa penurunan jumlah pesawat yang beroperasi disebabkan oleh gangguan rantai pasok global, akses terbatas terhadap komponen pesawat yang krusial, serta pemberlakuan tarif impor yang tinggi dan hambatan fiskal. “Kita juga perlu mengakui bahwa industri MRO di Indonesia sedang menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terlebih terhadap turunnya jumlah pesawat yang beroperasi di Indonesia, dan juga tekanan biaya tinggi,” lanjutnya.
Menurut Agus, penguatan sektor MRO menjadi langkah krusial agar Indonesia tidak terus bergantung pada layanan perawatan pesawat di luar negeri. Ketergantungan tersebut selama ini berdampak pada tingginya biaya operasional maskapai. Pemerintah pun mendorong kolaborasi antara industri, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan lembaga pendidikan untuk mencetak tenaga kerja terampil di bidang aviasi.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pemerintah juga membuka peluang investasi bagi pihak swasta, baik domestik maupun asing, untuk masuk ke sektor MRO. Dengan adanya investasi tersebut, diharapkan teknologi dan akses terhadap suku cadang pesawat bisa lebih terjamin. Sementara itu, IATA sebelumnya juga menekankan bahwa pertumbuhan pasar penerbangan Indonesia didorong oleh faktor demografi, peningkatan kelas menengah, serta konektivitas antarwilayah yang semakin luas.
Artikel Terkait
Aset Asuransi Nasional Tembus Rp1.195 Triliun per Maret 2026, Tumbuh 4,38 Persen
Transaksi Digital Syariah BSN Tembus Rp2,84 Triliun, Bank Kucurkan Pembiayaan Properti Rp56,5 Triliun
Penolakan Warga Hambat Pembangunan Sekolah Rakyat di Temanggung, Mensos: Lahan Sudah Clear and Clean
Anthropic Siapkan Dana Rp3.200 Triliun untuk Google Cloud, Jadi Kontrak AI Terbesar