Perundungan Bukan Sekadar Kenakalan: UNICEF Ungkap Empat Bentuk dan Dampak Serius pada Korban

- Rabu, 06 Mei 2026 | 13:15 WIB
Perundungan Bukan Sekadar Kenakalan: UNICEF Ungkap Empat Bentuk dan Dampak Serius pada Korban

Perundungan atau bullying bukanlah sekadar insiden tunggal yang bisa dianggap remeh, melainkan pola perilaku berulang yang dilakukan secara sengaja. Menurut UNICEF, pelaku perundungan umumnya memiliki posisi yang dianggap lebih kuat dibandingkan korbannya, baik dari segi usia, kekuatan fisik, maupun popularitas di lingkungan sosial.

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Berdasarkan kajian Universitas STEKOM, perundungan dapat dipicu oleh berbagai faktor kompleks. Ketidakharmonisan dalam keluarga, tekanan dari teman sebaya, rendahnya tingkat empati, serta paparan kekerasan di media menjadi beberapa pemicu utama. Pelaku biasanya terdorong oleh keinginan untuk menguasai, membalas dendam, atau sekadar mencari perhatian. Kondisi ini semakin parah ketika pengawasan di lingkungan sekolah tidak berjalan optimal.

Dalam praktiknya, perundungan memiliki empat bentuk utama yang perlu dipahami. Pertama, perundungan fisik, yaitu tindakan menggunakan kekuatan tubuh atau benda untuk menyakiti atau menakut-nakuti orang lain. Kedua, perundungan verbal, yang dilakukan melalui kata-kata kasar atau tidak pantas dengan tujuan melukai perasaan korban. Ketiga, perundungan sosial, yang bertujuan merusak hubungan atau reputasi seseorang, misalnya melalui pengucilan atau penyebaran gosip. Keempat, perundungan siber, yang terjadi di ranah digital melalui pesan teks, media sosial, aplikasi pesan instan, email, atau platform daring lainnya.

Dampak dari perundungan sangat luas dan serius. Tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga mental, sosial, hingga akademik korban. Bentuknya beragam, mulai dari perilaku agresif, ancaman, pengucilan sosial, hingga kekerasan fisik yang berpotensi membahayakan keselamatan. UNICEF mengidentifikasi sejumlah tanda yang perlu diwaspadai pada korban perundungan. Mereka kerap menunjukkan rasa takut untuk pergi ke sekolah atau mengikuti kegiatan tertentu. Kecemasan, kegugupan, dan kewaspadaan berlebihan juga menjadi gejala umum. Tidak jarang korban kehilangan teman, menghindari interaksi sosial, dan mengalami penurunan prestasi akademik. Setelah beraktivitas di dunia maya, mereka sering merasa tertekan. Dalam beberapa kasus, korban menjadi sangat tertutup atau justru menunjukkan perilaku agresif sebagai mekanisme pertahanan diri.

Langkah awal yang paling krusial dalam menangani perundungan adalah memastikan korban memahami situasi yang dialaminya. Baik perundungan terjadi di dunia nyata maupun digital, pemahaman ini menjadi fondasi penting. Selain itu, orang tua dan pendidik perlu membuka ruang diskusi secara rutin, memberikan dukungan emosional yang konsisten, serta membantu meningkatkan rasa percaya diri korban. Pendekatan yang tepat dan berkelanjutan menjadi kunci untuk memutus rantai perundungan dan memulihkan kondisi psikologis korban.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar