Waisak 2026 Jatuh pada 31 Mei, Rangkaian Libur Akhir Pekan Panjang Terbentuk

- Rabu, 06 Mei 2026 | 12:25 WIB
Waisak 2026 Jatuh pada 31 Mei, Rangkaian Libur Akhir Pekan Panjang Terbentuk

Perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE) tahun ini akan jatuh pada hari Minggu, 31 Mei 2026, bertepatan dengan akhir pekan. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang libur nasional dan cuti bersama, pemerintah telah menetapkan peringatan bagi umat Buddha tersebut sebagai hari libur nasional. Meskipun demikian, libur Waisak hanya berlangsung satu hari tanpa adanya cuti bersama tambahan.

Kendati hanya sehari, rangkaian libur di sekitar tanggal tersebut justru membentuk akhir pekan panjang atau long weekend. Sebelum perayaan Waisak, umat Islam terlebih dahulu merayakan Idul Adha 1447 Hijriah pada Rabu, 27 Mei 2026, yang diikuti dengan cuti bersama pada Kamis, 28 Mei 2026. Setelah itu, terdapat libur akhir pekan pada Sabtu, 30 Mei 2026, dan puncaknya adalah Hari Raya Waisak pada Minggu, 31 Mei 2026. Rangkaian libur ini ditutup dengan peringatan Hari Lahir Pancasila pada Senin, 1 Juni 2026. Pekerja yang ingin menikmati libur lebih panjang dapat memanfaatkan jatah cuti tahunan pada Jumat, 29 Mei 2026, sehingga tercipta enam hari libur beruntun.

Sementara itu, persiapan perayaan Tri Suci Waisak tingkat nasional telah mulai digodok. Menteri Agama Nasaruddin Umar baru-baru ini menerima audiensi pengurus Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta. Pertemuan tersebut membahas kesiapan pelaksanaan perayaan serta pesan moral yang ingin disampaikan.

Untuk tahun ini, perayaan Waisak 2570 BE/2026 mengusung tema besar “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan” dengan subtema “Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia”. Tema tersebut diharapkan tidak hanya menjadi landasan spiritual, tetapi juga tercermin dalam praktik kehidupan sosial yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan harmoni. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama menekankan bahwa perayaan Waisak merupakan momentum strategis untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.

“Tema yang diangkat tahun ini sangat kuat. Dharma sebagai sumber moral dan kebijaksanaan harus menjadi pijakan dalam kehidupan berbangsa. Dari situ lahir cinta kasih yang menjadi dasar perdamaian dunia,” ujar Nasaruddin Umar dalam pernyataannya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar