Mimpi Whoosh ke Surabaya Masih Hidup, Tapi Terhalang Utang

- Selasa, 03 Februari 2026 | 18:00 WIB
Mimpi Whoosh ke Surabaya Masih Hidup, Tapi Terhalang Utang

Di tengah hiruk-pikuk pembahasan restrukturisasi utang Whoosh, kabar baik datang dari pemerintah. Rencana kereta cepat Jakarta-Surabaya ternyata belum padam. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menko Bidang Infrastruktur, menegaskan hal itu dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa lalu.

“Kami ingin pastikan proyek yang besar dan strategis ini bisa terus eksis,” ujar AHY. Bahkan, menurutnya, proyek ini diharapkan bisa melaju lebih jauh.

“Banyak yang berharap, selain sampai Bandung, kereta cepat ini bisa terus meluncur hingga Surabaya,” tambah putra mantan presiden itu. Ekspansi rute ini bukan cuma soal transportasi. AHY yakin, perluasan infrastruktur bakal memberi nilai tambah besar buat masyarakat dan mendongkrak ekonomi daerah. “Ini akan menjadi game changer untuk konektivitas kereta api,” tegasnya.

Namun begitu, jalan menuju Surabaya masih panjang. Masalah pendanaan Whoosh harus diselesaikan dulu. AHY mengakui, proses restrukturisasi keuangan KCIC masih berlangsung. Kementerian Keuangan dan Danantara turut dilibatkan dalam pembicaraan serius ini.

“Intinya kami kawal terus upaya restrukturisasi. Kami cari solusi terbaik, tapi ini butuh proses dan waktu,” jelasnya. Pemerintah juga berjanji akan terus berkomunikasi dengan pihak China. Semangatnya sama: mencari jalan keluar.

Persoalan utang ini memang bukan main-main. Sejak digarap tahun 2016, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ternoda oleh pembengkakan biaya yang fantastis: USD 1,2 miliar, atau sekitar Rp 18 triliun. Akibatnya, total biaya pembangunan Whoosh membengkak jadi USD 7,27 miliar. Mayoritas, 75 persen, dibiayai pinjaman China Development Bank dengan bunga 2 persen per tahun. Angka yang tak sedikit.

Jadi, meski rencana ke Surabaya masih hidup, pemerintah punya pekerjaan rumah berat. Mereka harus membereskan utang di rute pertama sebelum mimpi melaju ke Jawa Timur benar-benar terwujud.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar