Rilis jutaan halaman dokumen dari kasus Jeffrey Epstein oleh pemerintah AS pekan lalu benar-benar mengguncang. Bukan cuma di luar negeri, tapi juga di sini. Gelombang diskusinya sampai ke Indonesia, dan menarik satu nama yang sempat tenggelam kembali ke permukaan: Dharma Pongrekun.
Mantan calon gubernur DKI itu mendadak viral lagi. Bukan karena omongan baru, justru karena pernyataan lamanya yang dulu dianggap ngawur sekarang dibaca ulang dengan kacamata yang berbeda.
Email ke Bill Gates dan Spekulasi yang Ikut Terbongkar
Semuanya berawal dari satu email dalam tumpukan dokumen itu. Jeffrey Epstein mengirimnya ke Bill Gates di tahun 2017. Isinya? Mereka berdua membahas ide soal simulasi pandemi dan sistem digital untuk data kesehatan global.
Nah, email ini kemudian diunggah ulang oleh sebuah akun Twitter pada 2 Februari lalu. Langsung meledak.
"Kumpulan berkas Epstein terbaru mengungkap bahwa Bill Gates telah membahas 'simulasi pandemi strain' dengan Jeffrey Epstein sejak tahun 2017..."
Bagi banyak orang, waktu pembicaraan itu yang bikin merinding. Tahun 2017. Tiga tahun sebelum COVID-19 benar-benar melanda. Wajar saja spekulasi langsung menjalar: apa ini ada hubungannya?
Ucapan yang Dulu Ditertawakan, Kini Direnungi
Di sinilah publik Indonesia teringat. Ingat pada debat Pilgub DKI 2024, saat Dharma Pongrekun melontarkan pernyataan yang kala itu bikin banyak orang menggeleng.
“Saya paham betul tentang pandemi ini agenda terselubung dari asing untuk mengambil alih kedaulatan negara,” katanya waktu itu.
Dulu, kalimat itu jadi bahan olok-olok. Tapi setelah dokumen Epstein terbuka, suasana berubah total. Rasanya seperti ada potongan puzzle yang tiba-tiba nyambung bagi sebagian orang.
Banjir Permintaan Maaf di Media Sosial
Yang terjadi kemudian cukup mengejutkan. Alih-alih mencibir, warganet justru ramai-ramai meminta maaf ke Dharma Pongrekun di platform seperti X. Sentimennya berbalik 180 derajat.
"Dia diketawain krn terus bicara elit global tiap kesempatan, ternyata anjrit dia benar. Kita aja yg bego nganggep itu omong kosong,"
"Time will tell yaa pak terima kasih sudah meluruskan saya dan minta maaf ya pak dulu sudah ngetawain,"
Figur yang dulu dianggap terlalu "konspiratif" kini dilihat sebagai orang yang mungkin terlalu cepat dihakimi. Namanya pun trending, dikelilingi narasi penebusan dosa publik.
Tidak Hanya Dharma, Nama Lain Juga Terseret
Gelombang dokumen ini ternyata luas jangkauannya. Selain Dharma, ada nama besar lain yang tersangkut: Hary Tanoesoedibjo. Sebuah potongan dokumen yang beredar memuat frasa ambigu "Indonesian CIA" di dekat namanya.
"Hary ....(diblok warna hitam)... introduce him/her to the Indonesian CIA ...(diblok warna hitam). Hary ... speak Indonesian,"
Karena sebagian teksnya disensor, ya, spekulasi pun tak terbendung. Maknanya jadi liar ditafsirkan.
Belum lagi soal hubungan bisnisnya dengan Donald Trump yang ikut disorot. Dokumen menyebut soal pembelian rumah mewah di Beverly Hills dari Trump dengan harga "di atas pasaran", plus keterlibatan dalam proyek pengembangan hotel.
Sampai detik ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak Hary Tanoesoedibjo atau MNC Group. Situasinya masih menggantung. Publik tentu menunggu penjelasan, sebelum spekulasi yang sudah liar ini jadi semakin tak terkendali.
Artikel Terkait
Truk Tangki Modifikasi Muat 5 Ton Solar Terguling, Puluhan Kecelakaan Beruntun di Bangkalan
Polisi Bongkar Judi Online Skala Besar di Batam, Dua Tersangka Kelola Lebih dari 200 Ribu Akun
Penundaan 11 Jam Sriwijaya Air SJ-581, Penumpang Mengeluhkan Minimnya Kompensasi dan Komunikasi
PSM Makassar Kalahkan Bhayangkara 2-1, Modal Penting Jauhi Zona Degradasi Liga 1