Konselor Laktasi: Pendamping Kunci yang Selamatkan Masa Menyusui

- Selasa, 03 Februari 2026 | 01:06 WIB
Konselor Laktasi: Pendamping Kunci yang Selamatkan Masa Menyusui

Menyusui itu penting banget, ya. Gizi dan kesehatan bayi sangat bergantung padanya. Tapi, jujur saja, jalan untuk memberikan ASI eksklusif itu nggak selalu mulus. Banyak ibu yang akhirnya menyerah dan berhenti lebih cepat dari yang direncanakan. Penyebabnya beragam, mulai dari informasi yang kurang, rasa percaya diri yang turun, sampai dukungan dari sekitar yang minim.

Nah, di sinilah peran konselor laktasi jadi krusial. Mereka bukan cuma ngasih teori. Dengan kompetensi khusus, mereka mendampingi ibu-ibu dengan pendekatan yang lebih personal. Mulai dari masalah teknis seperti perlekatan yang bikin nyeri, sampai mengatasi kekhawatiran bahwa ASI-nya ‘tidak cukup’. Intinya, mereka hadir untuk memberi solusi yang berbasis ilmu sekaligus empati.

Menurut dr. Hayin Naila, seorang konselor laktasi dari HA-Medika Kendal, banyak kasus sebenarnya bisa dicegah.

"Kunci utamanya ada di pendampingan sejak awal. Seringnya, kegagalan menyusui muncul karena informasi yang simpang siur dan lingkungan yang kurang mendukung," ujarnya.

Ia menambahkan, ketika ibu didampingi dengan benar, kepercayaan dirinya akan tumbuh. Proses menyusui pun jadi lebih optimal. Peran konselor, kata dia, adalah sebagai pendamping medis sekaligus pendukung emosional.

Di sisi lain, kalau kita lihat lebih luas, persoalan menyusui ini sebenarnya sistemik. Bukan cuma urusan individu ibu semata. Itulah mengapa intervensi profesional sangat dibutuhkan. Pendampingan yang tepat terbukti bisa mencegah masalah sejak dini dan menekan angka pemberian ASI yang terhenti sebelum waktunya.

Dampaknya pun luas. Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, keberhasilan menyusui adalah investasi. Bayi yang mendapat ASI punya risiko infeksi lebih rendah, status gizinya lebih baik, dan ini berkontribusi langsung pada pencegahan stunting. Tak kalah penting, dukungan yang memadai juga berpengaruh besar pada kesehatan mental sang ibu. Mereka jadi nggak merasa sendirian.

Jadi, memperkuat peran konselor laktasi bukanlah langkah tambahan semata. Ini adalah kebutuhan mendesak. Integrasi layanan konseling laktasi ke dalam sistem pelayanan kesehatan harus terus digalakkan. Tujuannya jelas: menciptakan ekosistem dan budaya menyusui yang sehat, berkelanjutan, dan penuh dukungan. Untuk masa depan sumber daya manusia yang lebih berkualitas, langkah ini tidak bisa kita abaikan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar