Anies Baswedan: Guru yang Tanamkan Nilai dan Etika Tak Tergantikan AI

- Kamis, 07 Mei 2026 | 02:30 WIB
Anies Baswedan: Guru yang Tanamkan Nilai dan Etika Tak Tergantikan AI

Mantan Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, memberikan pandangannya mengenai batasan kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan. Menurutnya, tidak semua peran guru dapat digantikan oleh teknologi, dan perbedaan mendasar terletak pada esensi pengajaran yang berorientasi pada nilai.

Dalam pernyataannya, Anies menjelaskan bahwa pengajar yang menerapkan metode mekanistik dan repetitif cenderung rentan tergantikan oleh AI. Namun, guru yang mampu menanamkan nilai, etika, serta inspirasi kepada peserta didik memiliki posisi yang tidak dapat digantikan oleh mesin secanggih apa pun.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengakui bahwa AI memiliki kemampuan luar biasa dalam meningkatkan kapasitas intelektual manusia. Ia mencontohkan, seseorang dengan IQ 120 bisa meningkat hingga 240 berkat bantuan teknologi tersebut. Meski demikian, Anies menegaskan bahwa AI tidak memiliki kapasitas untuk memberikan moral kepada manusia.

"AI itu membuat tadi, orang yang IQ-nya 120 bisa jadi 240, tapi AI tidak bisa memberikan pada kita moralnya," ujar Anies saat menjadi pembicara dalam open house di Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (6/5/2026).

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Anies justru menilai peran guru semakin krusial. Ia menekankan bahwa pendidik memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan penggunaan kemampuan intelektual yang telah ditingkatkan oleh AI ke arah yang benar.

"Jadi jangan pernah merasa peran guru itu berkurang karena AI. Justru ibu-bapak gurulah yang memberikan etika, moral itu," katanya.

Lebih lanjut, Anies menyoroti ketahanan berbagai metode pengajaran terhadap disrupsi teknologi. Ia menegaskan bahwa pendekatan pengajaran yang bersifat mekanistik dan berulang memang berpotensi tergantikan. Namun, pengajaran yang melibatkan nilai, etika, inspirasi, dan sentuhan hati tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi.

"Guru yang mekanistik, repetitif, recycle, bisa diganti teknologi enggak? Bisa. Tapi guru dengan nilai, dengan etik, dengan inspirasi, dengan hati, bisa enggak diganti teknologi? Enggak bisa," pungkasnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar