Menag: Borobudur Bukan Sekadar Warisan Budaya, Tapi Kitab Spiritual yang Hidup

- Kamis, 07 Mei 2026 | 03:45 WIB
Menag: Borobudur Bukan Sekadar Warisan Budaya, Tapi Kitab Spiritual yang Hidup

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Candi Borobudur bukan sekadar warisan budaya dunia, melainkan juga sumber nilai spiritual yang hidup dan relevan untuk memperkuat karakter serta harmoni masyarakat.

“Borobudur bukan sekadar bangunan batu yang berdiri kokoh, melainkan sebuah ‘kitab yang dipahat’. Setiap reliefnya mengajak kita untuk merenung, melihat ke dalam diri, dan menapaki jalan menuju kebijaksanaan,” ujar Nasaruddin dalam Roadshow Lokakarya Borobudur Sambut Waisak, Rabu, 6 Mei 2026.

Menurut Nasaruddin, Borobudur perlu dimaknai lebih dari sekadar bangunan fisik. Salah satu monumen Buddha terbesar di dunia itu, kata dia, merupakan representasi perjalanan batin manusia menuju kebijaksanaan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, lanjutnya, mencerminkan ajaran universal tentang pengendalian diri, kebijaksanaan, dan keseimbangan hidup yang tetap relevan di tengah dinamika zaman.

“Tema Reinterpreting Borobudur bukan sekadar kajian akademik, tetapi juga panggilan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur agar hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Nasaruddin.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga menekankan pentingnya menjaga kesakralan situs keagamaan sebagai ruang refleksi spiritual. Menurutnya, setiap agama memiliki konsep ruang dan waktu sakral yang perlu dihormati bersama sebagai bagian dari etika keberagamaan.

“Tempat ibadah adalah ruang perjumpaan batin antara manusia dengan Tuhan. Di sanalah ketenangan, kebijaksanaan, dan kesadaran diri tumbuh. Oleh karena itu, menjaga etika dan penghormatan terhadap ruang-ruang sakral menjadi tanggung jawab bersama,” sebut Nasaruddin.

Nasaruddin mengajak masyarakat menjadikan Borobudur sebagai sumber inspirasi dalam pembangunan karakter bangsa. Nilai kebijaksanaan, keseimbangan, dan kasih sayang yang tercermin di dalamnya dinilai penting sebagai fondasi kehidupan yang beradab dan harmonis.

“Nilai-nilai tersebut perlu terus dihidupkan agar menjadi pedoman dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang inklusif dan damai,” ujar Nasaruddin.

Dalam konteks pelestarian, Menteri Agama menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar Borobudur tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga tetap hidup secara makna.

“Warisan besar seperti Borobudur akan terus bermakna jika dijaga bersama, melalui sinergi pemerintah, masyarakat, akademisi, dan tokoh agama. Dengan begitu, nilai-nilainya dapat terus memberi manfaat bagi generasi kini dan mendatang,” kata Nasaruddin.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar