Kiprah Asia di Piala Dunia 2026: Jepang dan Australia Bersinar, Iran Terjepit Konflik, Indonesia Menyimak dari Jauh

- Selasa, 23 Juni 2026 | 19:07 WIB
Kiprah Asia di Piala Dunia 2026: Jepang dan Australia Bersinar, Iran Terjepit Konflik, Indonesia Menyimak dari Jauh

Kiprah Asia di Piala Dunia 2026: Jepang dan Australia Bersinar, Iran Terjepit Konflik, Indonesia Menyimak dari Jauh

Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memasuki pekan penentu fase grup. Dari 48 tim yang bertanding, perhatian publik sepak bola Indonesia yang tahun ini belum berhasil meloloskan timnas tertuju pada kinerja wakil Asia: Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Iran. Hasilnya menunjukkan peta kekuatan Asia yang kian kompetitif, meski satu di antaranya harus berjuang di luar lapangan akibat dinamika geopolitik.

Jepang menjadi sorotan paling terang setelah menghancurkan Tunisia 4-0 di Stadion Monterrey pada pertandingan ke-1.000 dalam sejarah Piala Dunia. Ayase Ueda mencetak dua gol, sementara Daichi Kamada dan Junya Ito masing-masing menyumbang satu gol. Kemenangan ini menempatkan Samurai Biru di posisi kedua Grup F dengan empat poin, hanya kalah selisih gol dari Belanda. Sebelumnya, Jepang mampu menahan Belanda 2-2 di laga perdana sebuah hasil yang menunjukkan daya saing Asia Timur kian matang.

"Kami datang ke sini bukan hanya untuk berpartisipasi. Kami ingin membuktikan bahwa Jepang bisa bersaing dengan negara-negara terbaik dunia," ujar pelatih Hajime Moriyasu dalam konferensi pers pascalaga, di Monterrey, Sabtu (20/6).

Sementara itu, Korea Selatan harus mengakui keunggulan tuan rumah Meksiko 1-0 di Guadalajara. Meski diperkuat bintang Tottenham Hotspur Son Heung-min, Korea Selatan kesulitan menembus pertahanan Meksiko yang digalang Edson Alvarez. Satu-satunya gol dalam pertandingan itu dicetak Luis Romo pada menit ke-50 memanfaatkan blunder kiper Kim Seung-gyu. Kekalahan ini membuat Korea Selatan tertahan di peringkat kedua Grup A dengan tiga poin, dan masih harus menghadapi Afrika Selatan di laga pamungkas untuk memastikan tiket ke babak 32 besar.

Australia menunjukkan kebangkitan setelah sukses mengalahkan Turki 2-0 pada laga perdana Grup D. Namun, Socceroos kemudian dihadapkan pada realitas pahit ketika dihajar tuan rumah Amerika Serikat 2-0. Pelatih Australia Graham Arnold tetap optimistis timnya bisa melaju ke fase knockout, mengingat Australia masih memiliki satu pertandingan melawan Paraguay yang bermain dengan 10 pemain setelah Miguel Almiron mendapat kartu merah akibat aturan baru FIFA.

Situasi paling rumit dialami Iran. Tim Melli tidak hanya bertarung di lapangan, tetapi juga melawan birokrasi imigrasi AS yang memberlakukan pembatasan ketat akibat konflik AS-Iran yang baru mereda. Iran baru mendapatkan visa masuk AS sepuluh hari sebelum laga pertama, dan pemain diwajibkan meninggalkan wilayah AS dalam hitungan jam setelah setiap pertandingan usai.

Iran menahan imbang Belgia 0-0 di Los Angeles dan Selandia Baru 0-0 di Vancouver hasil yang menggambarkan betapa situasi politik memengaruhi konsentrasi tim. Pengamat sepak bola Asia Tenggara, Akmal Marhali, menilai bahwa Iran layak mendapat apresiasi karena mampu bertahan di tengah tekanan di luar lapangan.

"Tim Iran membuktikan sepak bola bisa menjadi perekat di tengah ketegangan politik, namun pembatasan visa semacam ini jelas menghambat performa. Ini preseden buruk bagi penyelenggaraan Piala Dunia ke depan," ujar Akmal kepada media, Minggu (21/6).

Bagi Indonesia, capaian Jepang dan perlawanan Iran memberikan pelajaran berharga. Jepang membangun sepak bola dari akar rumput dengan J.League yang terstruktur dan program pembinaan usia muda yang konsisten sejak 1993. Australia bergabung ke Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 2006 dan langsung menunjukkan superioritas infrastruktur dan organisasi. Sementara Iran, dengan segala keterbatasan politiknya, tetap mampu bersaing di level tertinggi berkat budaya sepak bola yang mengakar kuat.

Indonesia, yang belum pernah lolos ke Piala Dunia dan tengah dalam masa transisi kepengurusan PSSI, masih memiliki pekerjaan rumah panjang. Dari empat wakil Asia di Piala Dunia 2026, setidaknya Jepang dipastikan akan melaju ke babak 32 besar, sementara Korea Selatan dan Australia masih memiliki peluang. Iran harus menang melawan Mesir pada Jumat (26/6) untuk menjaga asa. Seluruh perjalanan ini menjadi cermin bagi pengembangan sepak bola Indonesia butuh konsistensi, bukan sekadar euforia sesaat.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar