Di dunia teknologi yang serba cepat, ada sekelompok bahan yang nyaris tak terlihat namun sangat menentukan: Unsur Tanah Jarang, atau Rare Earth Elements (REE). Sebanyak 17 unsur kimia ini 15 lantanida ditambah skandium dan itrium memang jadi tulang punggung peradaban modern. Sifat magnetik, optik, dan katalitiknya yang unik membuatnya tak tergantikan. Coba lihat sekeliling: smartphone di genggaman, motor kendaraan listrik, bilah turbin angin, hingga peralatan medis canggih. Semuanya bergantung pada material ini.
Jadi, meski namanya "jarang", sebenarnya unsur-unsur ini cukup melimpah di kerak bumi. Yang benar-benar langka adalah menemukannya dalam deposit yang cukup terkonsentrasi dan layak secara ekonomi untuk ditambang. Itulah paradoksnya.
Nah, dalam perlombaan global menguasai mineral strategis ini, banyak negara pemilik sumber daya langsung membuka keran investasi asing. Tapi Iran? Mereka mengambil jalan lain. Strategi mereka terasa berbeda, lebih dalam, dan berorientasi jangka panjang. Fokusnya pada kemandirian teknologi dan industrialisasi bertahap. Lebih dari sekadar keputusan ekonomi, ini seperti sebuah ekspresi keyakinan sebuah pengelolaan sumber daya alam yang berangkat dari etika dan kosmologi Islam.
Semuanya berawal dari sebuah "pembacaan" terhadap alam. Di awal tahun 2010-an, melalui Badan Geologi Iran (GSI), pemerintah mulai serius memetakan apa yang tersembunyi di perut buminya. Masa 2012 hingga 2014 jadi periode penting. Saat itulah mereka mengumumkan temuan potensi REE di sejumlah wilayah, dari Torfeh dan Semnan hingga Khorasan Razavi. Bagi mereka, ini lebih dari sekadar eksplorasi geologi; ini adalah bentuk dari perintah untuk memperhatikan apa yang ada di langit dan bumi.
Tak lama setelahnya, laporan lebih besar muncul. Iran mengklaim menemukan cadangan berskala besar, mencakup cerium, lanthanum, dan neodymium yang sangat dibutuhkan industri. GSI bahkan menyebutnya salah satu yang terbesar di kawasan Asia Barat. Di sinilah biasanya negara lain akan tergopoh-gopoh mengekstraksi. Namun, Iran justru bersikap sabar. Eksplorasinya tetap bersifat pendahuluan. Mereka tidak buru-buru membuka model ekstraktif.
Kesabaran itu diuji ketika tawaran mengalir dari negara-negara seperti China dan Prancis. Mereka menawarkan investasi besar, teknologi mutakhir, dan konsesi penambangan. Tawaran yang sulit ditolak bagi banyak negara berkembang. Tapi Iran memilih untuk menolak. Mereka menampik model ekstraksi cepat yang berisiko menciptakan ketergantungan. Sebaliknya, mereka memilih membangun riset dan kemampuan domestik terlebih dahulu. Keputusan yang, bagi banyak pengamat, hanya bisa dipahami jika dilihat dari akar filsafat yang mendasarinya.
Dari Filsafat ke Kebijakan: Bumi Sebagai Amanah
Dalam pandangan filsafat Islam yang dipegang Iran, alam semesta bukanlah sekumpulan objek mati untuk dieksploitasi. Bumi, dengan segala isinya, adalah bagian dari tatanan Ilahi sebuah ayat atau tanda kebesaran Tuhan. Pandangan ini melahirkan prinsip-prinsip khusus dalam pengelolaan sumber daya.
Pertama, ada Kosmologi Tauhid. Prinsip ini melihat alam sebagai satu kesatuan kosmik yang utuh. Unsur Tanah Jarang, dalam kerangka ini, bukan sekadar komoditas strategis, melainkan bagian dari amanah yang harus dijaga. Mengeksploitasinya secara serakah dianggap sebagai sebuah pengkhianatan terhadap amanah itu sendiri.
Kedua, konsep tentang Manusia dan Amanah. Manusia diposisikan bukan sebagai penguasa mutlak, tapi sebagai penerima titipan. Konsep ini mendorong sebuah tanggung jawab ekologis: memanfaatkan dengan bijak, menjaga keseimbangan, dan memaksimalkan nilai tanpa merusak. Industrialisasi yang bertanggung jawab adalah bentuk dari 'adab' terhadap ekosistem.
Pemikir seperti Ibnu Sina bahkan melihat alam sebagai sebuah organisme hidup yang saling terhubung. Merusak satu bagian, katanya, bisa mengguncang keseluruhan sistem. Jadi, menebang hutan untuk tambang atau mencemari air untuk ekstraksi mineral bukanlah kesalahan teknis semata, tapi sebuah kerusakan kosmik.
Lantas, apakah teknologi dan industri ditolak? Sama sekali tidak. Islam, dalam interpretasi Iran, tidak menolak kemajuan. Yang ditolak adalah teknologi tanpa nilai, industri yang menghancurkan. Bagi mereka, membangun pabrik bisa menjadi ibadah sosial jika dilakukan dengan prinsip keadilan dan kelestarian. Sebaliknya, ia menjadi dosa jika hanya menyisakan kerusakan.
Bukti Nyata: Pilot Plant dan Jalan Tengah
Kesabaran dan prinsip itu akhirnya membuahkan hasil konkret. Pada 2025, Iran mengumumkan keberhasilan membangun pilot plant atau pabrik percontohan pengolahan REE berkualitas tinggi. Ini adalah simbol penting. Ia merupakan puncak dari riset domestik bertahun-tahun dan bukti nyata kemandirian teknologi.
Pilot plant itu sekaligus menjadi manifestasi dari "jalan tengah" Iran. Mereka tidak melakukan ekstraksi besar-besaran yang rakus. Mereka juga tidak menjual bahan mentah yang nilainya rendah. Strategi intinya adalah industrialisasi tanpa ekstraksi berlebihan. Sumber daya alam tidak dieksploitasi, melainkan "diberi adab" melalui penguasaan teknologi dan proses nilai tambah.
Pada akhirnya, cerita pengelolaan Unsur Tanah Jarang oleh Iran ini lebih dari sekadar laporan kebijakan. Ini adalah sebuah narasi tentang pilihan. Sebuah pilihan untuk melihat bumi bukan sebagai warisan yang bisa dihabisi, melainkan sebagai amanah suci yang harus diteruskan ke generasi mendatang. Dalam pandangan mereka, siapa yang menjaga bumi, pada hakikatnya sedang menjaga dirinya sendiri. Dan siapa yang merusaknya, ia telah mengkhianati titipan Tuhan.
(Erizeli Jely Bandaro)
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu