Starmer Mundur di Tengah Krisis, Andy Burnham Calon Terkuat Pengganti Perdana Menteri Inggris

- Selasa, 23 Juni 2026 | 13:50 WIB
Starmer Mundur di Tengah Krisis, Andy Burnham Calon Terkuat Pengganti Perdana Menteri Inggris

Kemenangan gemilang Partai Buruh dalam pemilihan umum Inggris pada 2024, yang mengakhiri 14 tahun masa oposisi, kini hanya tinggal kenangan. Perdana Menteri Keir Starmer, arsitek kemenangan tersebut, justru harus menelan pil pahit dengan mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin, 22 Juni 2026, di tengah tekanan politik yang semakin mengguncang posisinya.

Pernyataan resmi disampaikan Starmer dari kediaman resminya di 10 Downing Street, London. Ia memastikan bahwa proses suksesi kepemimpinan akan berlangsung cepat. Penggantinya, menurut Starmer, akan ditetapkan sebelum masa jeda sidang musim panas parlemen berakhir pada September 2026.

Satu nama kini menjadi sorotan utama sebagai kandidat terkuat: Andy Burnham. Popularitas Wali Kota Manchester Raya itu meroket setelah ia memenangkan pemilihan sela di daerah pemilihan Makerfield pekan lalu. Kemenangan dengan selisih suara yang sangat besar itu sekaligus mengamankan kursi parlemen yang merupakan syarat mutlak untuk menjadi perdana menteri.

"Semua orang bisa merasakan bahwa negara ini belum ada di posisi yang seharusnya," ujar Burnham, 56 tahun, seusai kemenangannya di Makerfield. Banyak pengamat menilai pernyataan itu sudah bernada seperti pidato seorang calon perdana menteri.

"Mulai hari ini saya akan memberikan seluruh kemampuan saya untuk mewujudkannya. Saya ingin nama Makerfield selamanya dikenang sebagai tempat yang memulai perubahan yang dibutuhkan negara ini, sekaligus mengembalikan sesuatu yang telah hilang dari kita, yaitu harapan. Harapan untuk masa depan," tegasnya.

Burnham bukanlah nama baru di panggung politik Inggris. Ia adalah politikus sayap kiri moderat dengan pengalaman puluhan tahun, baik di tingkat nasional maupun regional. Kariernya dimulai ketika ia pertama kali terpilih sebagai anggota parlemen pada 2001.

Di era Perdana Menteri Tony Blair, Burnham menjabat sebagai menteri muda di Kementerian Dalam Negeri. Ketika Gordon Brown mengambil alih tampuk kepemimpinan, karier Burnham semakin menanjak. Ia dipercaya mengisi sejumlah posisi strategis, mulai dari Kementerian Keuangan, Kementerian Kebudayaan, hingga Menteri Kesehatan.

Ambisi untuk memimpin partai sudah dua kali ia wujudkan, yakni pada 2010 dan 2015, meskipun belum berhasil. Pada 2017, ia memutuskan meninggalkan parlemen untuk menjadi Wali Kota Manchester Raya, sebuah wilayah di Inggris utara dengan 2,8 juta penduduk. Sejak saat itu, ia telah dua kali terpilih kembali, dengan kemenangan terakhirnya meraih hampir dua pertiga suara.

Salah satu pencapaian paling menonjol selama memimpin Manchester adalah perluasan akses transportasi umum yang terjangkau. Selain itu, penyediaan perumahan dan layanan kesehatan juga menjadi fokus utama kebijakannya. Burnham dikenal sebagai pengkritik keras Brexit dan menggambarkan dirinya sebagai pendukung "sosialisme pro-bisnis".

Selama pandemi Covid-19, namanya semakin bersinar. Ia beberapa kali berselisih dengan Perdana Menteri saat itu, Boris Johnson, menuntut dukungan keuangan yang lebih besar bagi pelaku usaha dan pekerja. Sikap tegasnya, ditambah keberhasilannya memimpin Manchester, membuatnya dijuluki "King of the North".

Dalam beberapa tahun terakhir, kritik utama Burnham terhadap sesama kader Partai Buruh, Keir Starmer, berfokus pada kebijakan pemangkasan anggaran kesejahteraan. Namun, hingga kini ia belum memaparkan secara rinci kebijakan yang akan ditempuh jika benar-benar menjadi perdana menteri.

Lahir pada 1970 di Aintree, dekat Liverpool, Burnham memiliki ikatan kuat dengan komunitas bekas daerah pertambangan dan industri di Inggris utara. Ia dibesarkan di desa Culcheth, dengan ayah yang bekerja sebagai teknisi dan ibu sebagai asisten tenaga medis. Ketika menempuh studi Sastra Inggris di Universitas Cambridge, ia kerap merasa kurang cocok dengan lingkungan kampus bergengsi tersebut. Terinspirasi aksi mogok para penambang pada pertengahan 1980-an, ia bergabung dengan Partai Buruh di usia 14 tahun.

Di luar politik, Burnham adalah pendukung setia klub sepak bola Everton. Istrinya berkebangsaan Belanda dan mereka dikaruniai tiga anak. Di lengan kanan atasnya, terdapat tato bergambar lebah pekerja yang menjadi simbol kerja keras dan solidaritas.

Saat ini, Burnham termasuk salah satu politikus paling populer di Inggris. Banyak pendukung menilainya sebagai harapan terbaik Partai Buruh, terutama untuk menghadapi meningkatnya dukungan terhadap Partai Reformasi Britania Raya yang berhaluan sayap kanan populis pimpinan Nigel Farage.

Meski demikian, jabatan perdana menteri Inggris telah menjadi sangat tidak stabil sejak referendum Brexit pada 2016. Jika Burnham benar-benar menggantikan Starmer, ia akan menjadi orang ketujuh yang menduduki posisi tersebut dalam satu dekade terakhir. Ia juga akan mewarisi negara yang masih bergulat dengan berbagai tantangan politik, ekonomi, dan sosial yang kompleks.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar