Dokumen Epstein Bocor, Terkuak Koneksi Trump hingga Putri Mahkota Norwegia

- Selasa, 03 Februari 2026 | 08:54 WIB
Dokumen Epstein Bocor, Terkuak Koneksi Trump hingga Putri Mahkota Norwegia

Kasus Jeffrey Epstein memang tak pernah kehabisan cerita. Sang pemodal itu dituduh mengeksploitasi anak-anak muda, bahkan yang masih di bawah umur, dengan memanfaatkan rumah-rumah mewah dan pesawat pribadinya yang terkenal dengan julukan "Lolita Express". Semua itu, katanya, untuk mengadakan pesta-pesta seks.

Dari sekian banyak korban, Virginia Giuffre mungkin yang paling vokal bersuara. Dia mengaku mengalami grooming dan pelecehan oleh Epstein saat masih remaja. Menurut pengakuannya, pertemuannya dengan Ghislaine Maxwell terjadi saat ia bekerja sebagai asisten di ruang loker resor Mar-a-Lago milik Trump di Florida. Maxwell kemudian menawarkannya pekerjaan sebagai "terapis" untuk Epstein. Giuffre punya dugaan kuat, dirinya dijual kepada Epstein dan klien-kliennya.

"Saya dioper layaknya piring buah," kata Giuffre.

Epstein sendiri tak pernah menghadapi persidangan. Dia ditemukan meninggal di sel penjaranya pada 10 Agustus 2019, saat menunggu proses hukum. Pemeriksaan resmi menyimpulkan kematiannya sebagai bunuh diri.

Namun begitu, skandal ini terus bergulir dan menyeret banyak nama besar. Tokoh politik, pebisnis papan atas, hingga figur hiburan dunia. Bahkan seorang kepala negara, Donald Trump, juga kerap disebut-sebut.

Gelombang Dokumen: Dari Trump Hingga Musk Terbuka

Baru-baru ini, Kementerian Kehakiman AS melepas jutaan lembar dokumen terkait Epstein. Rilis yang terjadi Jumat (30/1) waktu setempat itu memuat lebih dari 3 juta halaman, ditambah ribuan video dan gambar. Jaringannya terlihat sangat luas.

Nama Elon Musk muncul, disebutkan pernah menanyakan soal sebuah pesta kepada Epstein. Tapi Musk langsung membantah, tegas menyatakan dirinya tak pernah hadir dalam acara apa pun yang digelar terpidana itu.

Selain Musk, ada Kevin Warsh, calon pimpinan Federal Reserve yang diusulkan Trump. Namanya tercatat sebagai salah satu yang diundang ke pesta Natal Epstein. Tapi, apakah dia benar-benar datang? Itu masih belum jelas.

Figur-fitur lama seperti mantan Presiden Bill Clinton dan mantan Menteri Keuangan Larry Summers kembali muncul. Keduanya sudah berulang kali menyatakan penyesalan atas hubungan mereka dengan Epstein dan membantah terlibat pelanggaran.

Yang cukup mengejutkan, Bill Gates juga disebut. Dokumen itu mengindikasikan miliarder teknologi tersebut tertular penyakit menular seksual dari 'gadis-gadis Rusia' saat berkunjung ke pulau pribadi Epstein, Little Saint James. Draf email Epstein bahkan menyebut Gates diam-diam mencari antibiotik setelah kejadian itu.

Jubir Gates membalas keras. "Ini sepenuhnya absurd dan sangat tidak benar," katanya.

Tak ketinggalan, Pangeran Andrew. Dokumen terbaru ini memberikan lebih banyak detail tentang kehadirannya di berbagai acara yang diadakan Epstein.

Lalu, Bagaimana dengan Trump?

Nama Trump sendiri muncul dalam ratusan dokumen. Meski begitu, sebagian besarnya ternyata adalah kliping berita media lama. Salah satu berkas berisi email internal penyelidik federal yang membahas tuduhan terhadap Trump terkait Epstein. Namun, email itu justru menyimpulkan bahwa beberapa klaim dinilai tidak kredibel dan tidak ada bukti kejahatan yang terbukti.

Trump sendiri berulang kali menegaskan bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang aktivitas kriminal Epstein. Pengungkapan dokumen ini sebenarnya adalah janji kampanyenya, meski sempat tertunda. Pemerintahnya menegaskan, banyak dari materi yang dirilis penuh dengan klaim sensasional dan tidak benar tentang dirinya.

Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche menyatakan rilis kali ini adalah tahap akhir dari proses publikasi dokumen Epstein oleh pemerintahan Trump.

Guncangan untuk Kerajaan Norwegia

Di sisi lain, gelombang dokumen ini menimbulkan badai tersendiri bagi keluarga kerajaan Norwegia. Putri Mahkota Mette-Marit terpaksa minta maaf publik setelah namanya disebut lebih dari seribu kali dalam berkas-berkas itu. Situasi ini makin pelik karena muncul tepat sebelum sidang pemerkosaan yang menjerat putranya di Oslo.

Dokumen menunjukkan korespondensi pribadi antara Mette-Marit dan Epstein antara 2011 hingga 2014. Isinya beragam, dari percakapan ringan hingga yang agak mengganggu. Dalam satu email, misalnya, dia bertanya apakah pantas memberi anak lelakinya yang berusia 15 tahun wallpaper bergambar dua perempuan telanjang dengan papan selancar. Di kesempatan lain, dia menyebut Epstein "sangat menawan".

Yang cukup mencolok, dia bahkan sempat menginap empat hari di rumah Epstein di Florida pada 2013 padahal saat itu Epstein sudah menjadi terpidana kasus prostitusi anak.

“Saya menunjukkan penilaian yang buruk dan sangat menyesal pernah memiliki kontak apa pun dengan Epstein. Ini sungguh memalukan,” ujar Mette-Marit dalam pernyataan resmi istana.

Dia mengaku tidak cukup hati-hati mengecek latar belakang Epstein. Ironisnya, sebuah email dari 2011 justru menunjukkan bahwa dia pernah "meng-google" Epstein dan menemukan hasil yang "tidak terlihat terlalu bagus". Entah mengapa, itu tidak menghentikannya. Istana mengatakan, baru pada 2014 Mette-Marit memutus kontak, karena merasa Epstein mencoba memanfaatkan status kerajaannya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar