Rafah Kembali Terbuka, Pasien dan Korban Luka Gaza Mulai Dievakuasi

- Selasa, 03 Februari 2026 | 01:40 WIB
Rafah Kembali Terbuka, Pasien dan Korban Luka Gaza Mulai Dievakuasi

Rafah akhirnya terbuka lagi. Setelah berbulan-bulan terkunci rapat, perbatasan vital antara Gaza dan Mesir itu mulai ramai dengan aktivitas. Yang pertama kali menyeberang bukanlah orang biasa, melainkan mereka yang paling membutuhkan pertolongan: pasien dan korban luka perang dari Palestina.

Menurut sejumlah saksi di lokasi, ambulans-ambulans Mesir sudah mulai berdatangan membawa mereka. Rombongan itu didampingi pengawal, melintasi tanah gersang yang memisahkan dua dunia.

"Mereka telah mulai berdatangan dengan ambulans Mesir, didampingi oleh beberapa pengawal," ujar seorang pejabat Kesehatan Mesir, seperti dilaporkan AFP, Selasa lalu.

Begitu tiba di sisi Mesir, petugas medis langsung sigap. Mereka memberikan perawatan pertama, lalu memindahkan para korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Situasinya terlihat mendesak, tapi tertata.

"Sejauh ini sudah tiga ambulans yang tiba," lanjut pejabat itu, memberikan gambaran awal. "Mereka membawa sejumlah orang sakit dan terluka, yang segera diperiksa pada saat kedatangan untuk menentukan ke rumah sakit mana mereka akan dipindahkan."

Ini baru gelombang pertama. Rencananya, penyeberangan pada Senin (2/2) akan mengizinkan 150 warga Palestina masuk. Rinciannya, 50 pasien masing-masing dengan dua pendamping ditambah 50 warga lainnya. Angka yang mungkin terasa kecil dibanding kebutuhan, tapi setidaknya ini sebuah awal.

Namun begitu, kita harus ingat: Rafah bukan sekadar pintu biasa. Ia adalah gerbang vital, satu-satunya harapan bagi banyak warga sipil dan kiriman bantuan. Sayangnya, nasibnya tak pernah stabil. Perbatasan ini ditutup paksa sejak pasukan Israel menguasainya di bulan Mei 2024. Pernah dibuka sebentar di awal 2025, lalu kembali terkunci.

Penutupan itu punya alasan politis yang pelik. Israel bersikukuh tidak akan membuka Rafah sebelum jenazah Ran Gvili sandera terakhir mereka di Gaza dikembalikan. Nah, jenazahnya sudah ditemukan beberapa hari lalu dan sang prajurit telah dimakamkan di tanah airnya. Rintangan besar itu akhirnya tersingkir.

Kini, arus masuk dan keluar akan diizinkan dengan koordinasi ketat. Mesir jadi mitra utama, sementara Israel masih melakukan pemeriksaan keamanan untuk setiap individu. Misi Uni Eropa akan mengawasi prosesnya. Meski terdengar sudah siap, masih banyak tanda tanya yang menggantung.

Contohnya, berapa banyak orang yang benar-benar bisa lewat? Lalu, bagaimana dengan mereka yang ingin pulang ke Gaza apakah diizinkan kembali? Detail-detail penting itu masih kabur, menunggu kepastian di tengah situasi yang tetap rapuh.

Rafah terbuka. Tapi di tanah konflik seperti ini, tidak ada yang benar-benar pasti.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar