Mobil Listrik Makin Diminati, BYD Buktikan Hematnya Bisa Capai Rp 10 Juta per Tahun

- Rabu, 04 Februari 2026 | 06:36 WIB
Mobil Listrik Makin Diminati, BYD Buktikan Hematnya Bisa Capai Rp 10 Juta per Tahun

Pasar mobil di Indonesia lagi ramai dibicarakan. Kalau diamati, ada satu segmen yang pertumbuhannya benar-benar melesat: mobil listrik murni atau BEV. Sepanjang 2025 ini, angkanya memang luar biasa.

Data dari Gaikindo menunjukkan, penjualan grosir BEV sepanjang tahun lalu tembus 104 ribu unit. Itu bukan angka main-main.

Menurut pengamat otomotif Bebin Djuana, ada alasan kuat kenapa mobil listrik mulai dilirik banyak orang sekarang. Padahal, dua atau tiga tahun silam, minat masyarakat masih terhalang banyak kendala.

“Minat untuk beralih ke BEV sebenarnya sudah besar banget. Cuma, kendala awalnya ya harga. Dulu masih terasa mahal,” kata Bebin.

Namun begitu, situasinya mulai berubah. Sekarang pilihan produknya lebih beragam dengan harga yang jauh lebih kompetitif. Di sisi lain, ekosistem pendukungnya, seperti stasiun pengisian daya umum, juga makin banyak dibangun.

“Mobil-mobil listrik yang masuk tahun ini desain dan fiturnya bagus. Belum lagi, biaya operasionalnya jauh lebih rendah ketimbang mobil mesin bakar biasa,” imbuhnya.

Ambil contoh BYD Atto 1. Dari pengalaman pengguna, biaya operasional hariannya bisa ditekan drastis, sampai 50-70 persen lebih hemat dibanding kendaraan konvensional.

Bayangkan saja. Untuk pemakaian harian sekitar 40 kilometer, mobil bensin biasa bisa menghabiskan hingga Rp 12,2 juta per tahun. Itu sudah termasuk bensin, pajak yang lebih tinggi, plus perawatan rutin.

Sebaliknya, BYD Atto 1 menawarkan penghematan yang signifikan. Konsumsi energinya efisien, dan pajak kendaraan listrik di Indonesia memang dibuat sangat ringan.

Kalau isi dayanya di SPKLU, biaya operasional tahunannya cuma sekitar Rp 5,6 juta. Tapi angka itu bisa dipangkas lagi jadi hanya Rp 3,6 juta per tahun kalau pengisiannya dilakukan di rumah pakai listrik PLN. Selisihnya bisa mencapai Rp 9-10 juta per tahun. Cukup besar, bukan?

Pencapaian ini sejalan dengan momentum BYD secara global. Di tahun yang sama, raksasa asal Tiongkok ini mendistribusikan 4,6 juta unit kendaraan ke seluruh dunia, dengan 1 juta unit di antaranya diekspor.

Di Asia Tenggara, posisi mereka juga kuat. BYD jadi merek nomor satu di Singapura dan penjualannya sangat signifikan di Thailand. Keberhasilan regional ini tentu memperkuat citra dan posisinya di Indonesia.

Perkembangan BYD di dalam negeri nggak cuma soal angka penjualan. Mereka juga aktif mengikuti dinamika industri otomotif nasional yang sedang gencar menuju elektrifikasi.

Jaringan layanan purna jual mereka terus diperluas ke berbagai daerah. Yang lebih penting, rencana produksi lokal pun sudah disiapkan dan ditargetkan berjalan pada 2026 nanti.

Rencana pembangunan pabrik itu menunjukkan sesuatu. Elektrifikasi nggak cuma terjadi di sisi konsumen, tapi mulai merambah struktur industri dalam negeri. Kehadiran pabrik lokal berpotensi menguatkan rantai pasok, membuka lapangan kerja, dan tentu saja meningkatkan daya saing industri kita di era transisi energi.

Untuk memperluas pasar, BYD juga menjalin kolaborasi dengan perusahaan pembiayaan, penyedia layanan mobilitas, hingga sektor "ride-hailing".

Upaya edukasi mereka jalan terus, salah satunya lewat roadshow ke kampus-kampus seperti Undip Semarang, ITB, dan Unhas Makassar.

Mereka bahkan tak lupa pada program lingkungan. Baru-baru ini ada inisiatif penanaman 500 pohon mangrove yang diperkirakan mampu serap sekitar 10 ton CO₂ per tahun.

Inisiatif seperti ini menunjukkan satu hal: perkembangan BEV di Indonesia nggak cuma bergantung pada produk bagus semata. Faktor keterjangkauan dan dukungan ekosistem yang berkelanjutan sama pentingnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar