Anggota DPR AS Krishnamoorthi Pertanyakan Klaim Trump soal Berakhirnya Perang dengan Iran

- Rabu, 06 Mei 2026 | 14:15 WIB
Anggota DPR AS Krishnamoorthi Pertanyakan Klaim Trump soal Berakhirnya Perang dengan Iran

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, Raja Krishnamoorthi, secara resmi mempertanyakan klaim Presiden Donald Trump yang menyatakan perang dengan Iran telah berakhir. Dalam sebuah surat resmi yang dikirimkan pada Selasa, 5 Mei 2026, ia mendesak Direktur Intelijen Nasional (DNI) Tulsi Gabbard untuk memberikan penjelasan transparan mengenai situasi terkini di lapangan.

Krishnamoorthi menilai pernyataan Trump tidak mencerminkan realitas yang masih berlangsung. Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada Rabu, 6 Mei 2026, blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran masih terus diberlakukan. Di samping itu, operasi militer yang masih aktif dan kesepakatan gencatan senjata yang dinilai rapuh semakin memperkuat keraguan terhadap klaim bahwa konflik telah usai.

“Presiden Trump telah secara keliru memberi tahu Kongres bahwa setelah 60 hari, perang dengan Iran telah berakhir, padahal blokade dan operasi militer masih berlangsung,” tulis Krishnamoorthi dalam suratnya. Ia menyampaikan kekhawatiran mendalam bahwa informasi yang diterima Kongres tidak akurat dan berpotensi menyesatkan.

Sebelumnya, Trump menyatakan kepada Kongres bahwa permusuhan dengan Iran telah selesai menyusul gencatan senjata yang mulai berlaku sejak awal April. Meski demikian, ia menegaskan bahwa blokade terhadap Iran tetap dipertahankan. Sementara itu, operasi militer yang dinamakan “Project Freedom” disebut akan dihentikan sementara untuk menjamin keamanan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Krishnamoorthi menduga bahwa pernyataan tersebut merupakan upaya pemerintah untuk menyesuaikan situasi dengan ketentuan Resolusi Kewenangan Perang 1973. Aturan tersebut secara tegas melarang keterlibatan militer AS dalam konflik bersenjata lebih dari 60 hari tanpa persetujuan Kongres. Dengan menyatakan perang telah berakhir, pemerintah dapat menghindari kewajiban untuk meminta otorisasi lebih lanjut dari legislatif.

Menurut Krishnamoorthi, kondisi di lapangan saat ini belum mencerminkan gencatan senjata yang sah dan permanen. Ia menekankan bahwa Amerika Serikat masih terlibat dalam konflik yang belum mendapatkan persetujuan resmi dari Kongres. “Kita perlu mengakhiri konflik ini secara nyata dan permanen, bukan sekadar mengubah narasi,” tegasnya.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, Krishnamoorthi meminta pengarahan intelijen rahasia paling lambat 15 Mei. Ia ingin mengetahui kondisi terbaru konflik, ketahanan ekonomi Iran di tengah blokade, serta potensi eskalasi yang mungkin terjadi ke depan. Permintaan ini menunjukkan urgensi untuk mendapatkan data yang akurat sebelum Kongres mengambil langkah lebih lanjut.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan pentingnya transparansi, baik bagi publik maupun lembaga legislatif. Menurutnya, kejelasan kebijakan sangat diperlukan untuk memastikan situasi tidak semakin tidak stabil dan berdampak langsung terhadap keamanan serta kepentingan masyarakat Amerika Serikat.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar