CKG Pemerintah Capai 100 Juta Peserta, Skrining Temukan 663 Ribu Anak Alami Tekanan Darah Tinggi

- Rabu, 06 Mei 2026 | 15:15 WIB
CKG Pemerintah Capai 100 Juta Peserta, Skrining Temukan 663 Ribu Anak Alami Tekanan Darah Tinggi

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digulirkan pemerintah telah menjangkau 100 juta peserta hingga awal Mei 2026, menjadikannya salah satu inisiatif kesehatan masyarakat terbesar di tanah air. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, mengungkapkan bahwa layanan ini beroperasi di lebih dari 10 ribu Puskesmas yang tersebar di 514 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

“Sepanjang tahun 2025, CKG telah melayani lebih dari 70 juta peserta. Memasuki tahun 2026 sampai dengan awal Mei 2026, jumlah tersebut telah bertambah lebih dari 30 juta jiwa. Total sudah 100 juta penduduk Indonesia mendapatkan CKG,” kata Qodari di kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).

Pemerintah tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga memberikan perhatian khusus pada anak usia sekolah. Berdasarkan data periode 1 Januari hingga 3 Mei 2026, Kementerian Kesehatan telah melakukan skrining terhadap 4,8 juta anak di 48 ribu sekolah di seluruh Indonesia. Temuan yang mengejutkan muncul dari pemeriksaan tersebut: sebanyak 663 ribu anak atau sekitar 22,1 persen dari total yang diperiksa tercatat mengalami peningkatan tekanan darah.

“Wah, anak-anak sudah mulai darah tinggi. Fenomena baru ini, anak-anak sudah darah tinggi,” ujar Qodari, menggambarkan kekhawatirannya terhadap perubahan pola penyakit pada generasi muda.

Menurut Qodari, keberadaan program CKG menjadi penting untuk mendeteksi masalah kesehatan pada anak-anak sedini mungkin. Dengan deteksi dini, penanganan terhadap berbagai penyakit dapat dilakukan lebih cepat, sehingga risiko komplikasi di kemudian hari bisa ditekan.

Di sisi lain, pemerintah juga terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC). Salah satu langkah strategis yang akan diambil adalah pengadaan alat deteksi TBC di Puskesmas mulai semester kedua tahun ini. Alat yang dimaksud meliputi NPOCD (Near Point of Care Testing) dan pemeriksaan X-Ray, yang diharapkan mampu meningkatkan akurasi dan kecepatan diagnosis.

Hingga 3 Mei 2026, pemerintah telah menemukan lebih dari 241 ribu kasus TBC aktif. Dari jumlah tersebut, 84 persen di antaranya telah memulai pengobatan, sementara tingkat keberhasilan pengobatan mencapai 80 persen. Meskipun angka ini masih di bawah target nasional yang sebesar 90 persen, Qodari optimistis bahwa capaian akan terus membaik seiring dengan perluasan program.

Pemerintah juga telah melakukan pelacakan kontak (tracing) terhadap pasien TBC di 13 kabupaten dan kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Langkah ini akan diperluas secara bertahap ke tingkat nasional. “Total sasaran 5.500 kontak dari pasien TBC sepanjang April sampai Mei 2026. Ini akan diperluas ke nasional secara bertahap,” jelas Qodari.

Selain deteksi dan pengobatan, perbaikan kualitas hunian juga menjadi bagian dari strategi penanganan TBC. Tahun ini, pemerintah menargetkan perbaikan 8.000 rumah milik pasien TBC. Angka ini meningkat drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana perbaikan hanya dilakukan terhadap 300 rumah per tahun pada periode 2020 hingga 2023.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar