Di tengah perjuangan sengit untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola nasional, PSM Makassar kini dihadapkan pada ancaman lain yang tak kalah genting: gelombang kepergian pemain kunci. Situasi ini muncul di saat yang paling krusial, ketika konsentrasi tim seharusnya terfokus penuh pada upaya menjauh dari jerat degradasi Super League 2025/2026. Namun, realitas sepak bola modern seringkali tidak menyediakan ruang yang ideal pertarungan di lapangan hijau berjalan beriringan dengan manuver senyap di meja perundingan.
Nama pertama yang mencuat dalam pusaran rumor ini adalah Muhammad Mufli Hidayat. Bek kanan berusia 20 tahun itu dikabarkan menjadi target serius Persebaya Surabaya menjelang akhir musim. Ketertarikan klub berjuluk Bajul Ijo tersebut bukan tanpa dasar. Dalam usianya yang masih sangat muda, Mufli telah menjelma menjadi salah satu pemain paling konsisten di lini pertahanan PSM. Ia bukan sekadar pelapis, melainkan bagian integral dari struktur utama tim yang kerap dipercaya tampil di laga-laga penting.
Spekulasi mengenai kepindahan ini pertama kali mengemuka dari unggahan seorang pengamat sepak bola yang aktif di kalangan suporter. Dalam pernyataan yang beredar, disebutkan bahwa bek muda PSM berpotensi merapat ke Persebaya pada musim depan. Meskipun informasi ini belum dapat dijadikan pegangan pasti, isi pernyataan tersebut cukup kuat untuk memantik spekulasi luas terlebih mengingat situasi kontrak sang pemain yang mendukung skenario perpindahan.
Kontrak Mufli yang akan berakhir pada 31 Mei 2026 menjadi celah yang sulit diabaikan oleh klub peminat. Dalam ekosistem sepak bola profesional, kombinasi antara pemain muda dengan jam terbang tinggi dan status bebas transfer adalah paket yang sangat menggiurkan. Dengan catatan 56 penampilan, kontribusi 2 gol dan 3 assist, serta total 1.654 menit bermain, Mufli menawarkan perpaduan antara pengalaman, konsistensi, dan potensi perkembangan yang masih besar.
Lebih dari sekadar statistik, fleksibilitasnya menjadi nilai tambah yang signifikan. Selain beroperasi sebagai bek kanan, ia juga mampu dimainkan di sektor sayap hingga lini depan. Dalam sepak bola modern yang menuntut dinamika tinggi, pemain dengan kemampuan multi-posisi seperti Mufli merupakan aset berharga. Tidak mengherankan jika Persebaya, yang tengah membangun ulang kekuatan tim, melihatnya sebagai investasi jangka panjang.
Di bawah arahan pelatih Bernardo Tavares, kebutuhan akan pemain dengan karakter agresif dan disiplin memang menjadi prioritas. Persebaya saat ini membutuhkan kedalaman skuad, khususnya di posisi bek kanan, untuk menjaga konsistensi performa sepanjang musim. Kehadiran Mufli dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut sekaligus memberikan opsi rotasi yang lebih variatif.
Sementara itu, Mufli bukan satu-satunya nama yang berpotensi meninggalkan Makassar. Di lini depan, Victor Dethan juga berada dalam pusaran rumor yang tak kalah kuat. Winger muda ini sebelumnya menjadi rebutan tiga klub besar: Persib Bandung, Persebaya, dan Persija Jakarta. Pada fase awal, persaingan antara Persib dan Persebaya sempat menjadi sorotan utama, terutama karena faktor pelatih dan kebutuhan taktik.
Sosok Bojan Hodak dikabarkan menginginkan Dethan untuk memperkuat lini serang Persib. Sementara itu, Persebaya memiliki daya tarik emosional melalui Bernardo Tavares, yang pernah menjadi mentor bagi sang pemain di PSM. Relasi ini dinilai mampu mempercepat proses adaptasi sekaligus memaksimalkan potensi Dethan di lingkungan yang baru.
Namun, arah cerita berubah ketika kabar dari internal Persija mulai mengemuka. Klub ibu kota itu disebut telah mencapai kesepakatan awal dengan Dethan, memanfaatkan situasi kontraknya yang tidak diperpanjang. Informasi dari berbagai sumber internal yang telah disunting mengarah pada satu kesimpulan: Persija dan Dethan dikabarkan telah menemukan titik temu dalam negosiasi. Meskipun belum ada pengumuman resmi, sinyal ini cukup kuat untuk menggeser peta persaingan perebutan pemain.
Jika skenario ini benar terjadi, PSM berpotensi kehilangan dua pemain muda sekaligus dalam waktu yang berdekatan. Situasi ini tentu bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga menyangkut stabilitas tim secara keseluruhan. Di fase genting seperti perburuan lolos dari degradasi, gangguan psikologis akibat rumor transfer dapat berdampak signifikan terhadap performa pemain di lapangan.
Lebih jauh, ancaman eksodus ini juga mencerminkan posisi PSM dalam lanskap sepak bola nasional. Klub ini selama beberapa musim terakhir dikenal sebagai tempat berkembangnya talenta-talenta potensial. Namun di sisi lain, keberhasilan tersebut justru menjadikannya “ladang” bagi klub-klub besar yang siap merekrut pemain jadi tanpa harus melalui proses pembinaan yang panjang.
Di tengah tekanan itu, PSM dihadapkan pada pilihan yang sulit: mempertahankan pemain dengan segala konsekuensi finansialnya, atau merelakan mereka pergi dan memulai kembali proses regenerasi. Kedua opsi ini memiliki risiko masing-masing, terutama jika tidak diimbangi dengan perencanaan yang matang dan visi jangka panjang.
Pada akhirnya, kisah Mufli Hidayat dan Victor Dethan bukan sekadar rumor transfer biasa. Ia adalah potret dari dinamika sepak bola modern Indonesia di mana perjuangan di lapangan tidak pernah benar-benar terpisah dari strategi di luar lapangan. Dan bagi PSM Makassar, ujian sesungguhnya bukan hanya bertahan di papan klasemen, tetapi juga menjaga fondasi tim di tengah godaan perubahan yang datang dari segala arah.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Andalkan Latihan Motocross Ekstrem ala Marc Márquez Jelang Moto3 Prancis
Iran Minta Jaminan FIFA Soal Status IRGC demi Bisa Tampil di Piala Dunia 2026
Laga Persija vs Persib Dipindah ke Stadion Segiri karena Faktor Keamanan di Jakarta
Persebaya Buru Bek Muda PSM Mufli Hidayat yang Berstatus Bebas Transfer