Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas pemerintah telah menjangkau 100 juta peserta sejak diluncurkan, menjadikannya salah satu inisiatif kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, mengungkapkan bahwa layanan ini telah beroperasi di lebih dari 10 ribu puskesmas yang tersebar di 514 kabupaten dan kota di seluruh tanah air.
“Sepanjang tahun 2025, CKG telah melayani lebih dari 70 juta peserta. Memasuki tahun 2026 sampai dengan awal Mei 2026, jumlah tersebut telah bertambah lebih dari 30 juta jiwa. Total sudah 100 juta penduduk Indonesia mendapatkan CKG dan ini berjalan di lebih 10.000 Puskesmas di 514 Kabupaten/Kota seluruh Indonesia,” kata Qodari di kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).
Dari total peserta tersebut, sebanyak 4,8 juta anak usia sekolah telah menjalani pemeriksaan kesehatan. Skrining terhadap anak-anak itu dilakukan di 48 ribu sekolah di berbagai daerah. “Khusus untuk anak usia sekolah, berdasarkan data periode 1 Januari 2026 hingga 3 Mei kemarin, Kementerian Kesehatan telah melakukan skrining terhadap 4,8 juta anak di 48 ribu sekolah di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Hasil pemeriksaan di sekolah-sekolah itu mengungkapkan temuan yang mengejutkan. Qodari menyebutkan bahwa sebanyak 663 ribu anak atau sekitar 22,1 persen dari total yang diperiksa telah mengalami peningkatan tekanan darah atau hipertensi. Ia menilai fenomena ini sebagai sesuatu yang baru dan perlu mendapat perhatian serius. “Sebanyak 22,1% atau 663 ribu anak mengalami peningkatan tekanan darah, wah anak-anak sudah mulai darah tinggi ya. Fenomena baru ini, anak-anak sudah darah tinggi,” imbuhnya.
Qodari menegaskan bahwa kehadiran program CKG bertujuan untuk mendeteksi masalah kesehatan pada anak-anak sedini mungkin. Dengan deteksi dini, penanganan terhadap berbagai penyakit dapat dilakukan lebih cepat dan tepat, sehingga risiko komplikasi dapat ditekan.
Di sisi lain, pemerintah juga tengah memperkuat upaya penanganan penyakit tuberkulosis (TBC). Qodari mengungkapkan bahwa alat deteksi TBC akan mulai diadakan di puskesmas pada semester kedua tahun ini. “Penguatan deteksi di Puskesmas. Puskesmas akan diperkuat dengan alat NPOCD, Near Point of Care Testing, dan pemeriksaan X-Ray yang akan dimulai pada semester 2 tahun ini,” katanya.
Hingga 3 Mei 2026, pemerintah telah menemukan lebih dari 241 ribu kasus TBC aktif. Dari jumlah tersebut, 84 persen di antaranya telah memulai pengobatan, meskipun target yang ditetapkan adalah 90 persen. Sementara itu, tingkat keberhasilan pengobatan mencapai 80 persen, masih di bawah target 90 persen. “Pada tanggal 3 Mei 2026, capaian program TBC nasional adalah sebagai berikut. Penemuan kasus lebih dari 241.000 kasus, inisiasi pengobatan 84% dari target 90%, dan keberhasilan pengobatan 80% dari target 90%,” papar Qodari.
Sebagai langkah lanjutan, pemerintah telah melakukan pelacakan kontak erat pasien TBC di 13 kabupaten dan kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kegiatan tracing ini menyasar 5.500 kontak dari pasien TBC sepanjang April hingga Mei 2026. Rencananya, program pelacakan ini akan diperluas ke tingkat nasional secara bertahap.
Tidak hanya itu, pemerintah juga berencana memperbaiki 8.000 rumah milik pasien TBC pada tahun 2026. Angka ini meningkat drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Dan ini meningkat dari 300 rumah per tahun, pada 2020 sampai 2023,” pungkas Qodari.
Artikel Terkait
Badut Balon di Mojokerto Tega Bunuh Ibu Mertua dan Lukai Istri, Pelaku Kabur
Polda NTT Bongkar Jaringan Penyelundupan Rokok Ilegal dari Tiongkok, Amankan Barang Bukti Rp23 Miliar
Saksi Kunci Bantah Keterlibatan Empat Personel TNI dalam Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS
Wakil Ketua Komisi IX Kritik Rencana BGN Wajibkan Satu Kampus Satu Dapur: Jangan Tambah Beban Perguruan Tinggi