Militer Amerika Serikat tak tinggal diam. Mereka baru saja membentuk satuan tugas baru yang bakal dikirim ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini diumumkan langsung oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Rabu waktu setempat, seperti dilaporkan Al-Arabiya, Kamis kemarin.
Nama satgasnya cukup garang: Task Force Scorpion Strike, atau TFSS. Pengerahan pasukan ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth baru saja meluncurkan rencana ambisius bernama "drone dominance".
Rencananya, AS akan menggelontorkan dana hingga satu miliar dolar AS dalam dua tahun ke depan. Tujuannya jelas: memproduksi ratusan ribu drone murah untuk mempertahankan supremasi di udara. Dunia perang modern sekarang ini, ancaman drone sudah jadi hal biasa. AS ingin memastikan mereka tak ketinggalan.
Di sisi lain, tekanan di lapangan juga makin nyata. Selama periode pemerintahan Joe Biden, pasukan AS di Irak, Suriah, dan sekitarnya menghadapi ratusan serangan. Pelakunya adalah milisi dan kelompok-kelompok yang didukung Iran.
Serangan-serangan itu tak main-main. Setidaknya satu di antaranya berhasil menewaskan prajurit AS. Kejadian-kejadian seperti inilah yang akhirnya memaksa Pentagon untuk bergerak cepat. Mereka butuh solusi drone yang lebih lincah, baik untuk bertahan maupun menyerang.
Jadi, pembentukan Task Force Scorpion Strike ini bisa dilihat sebagai jawaban langsung. Sebuah respons terhadap ancaman yang makin masif dan kebutuhan untuk bertindak lebih adaptif di medan tempur yang terus berubah.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi